nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Trump dan Xi Jinping Damai, Begini Komentar Sri Mulyani

Giri Hartomo, Jurnalis · Senin 03 Desember 2018 15:46 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 12 03 20 1986177 trump-dan-xi-jinping-damai-begini-komentar-sri-mulyani-djcRO0RKCh.jpeg Menteri Keuangan Sri Mulyani. Foto: Okezone

JAKARTA - Amerika Serikat (AS) dan China akhirnya menyepakati sebuah gencatan dalam perang dagang. Kesepakatan ini didapat setelah Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping bertemu di KTT G20.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menilai, gencatan perang dagang akan berdampak baik bagi perekonomian global dan Indonensia. Setidaknya dalam 90 hari ke depan akan memberikan rasa tenang dalam memasuki awal tahun 2019.

"Paling tidak memberikan tiga bulan atau 90 hari bagi kedua belah pihak melihat aspek kesepakatan yang bisa menenangkan dari sisi awal tahun," ujarnya dalam acara CEO Network di Hotel Ritz Carlton SCBD, Jakarta, Senin (3/12/2018).

Baca Juga: Akhirnya AS-China Sepakat Gencatan Perang Dagang

Meskipun begitu, lanjut Sri Mulyani, bukan berarti Indonesia berleha-leha karena perang dagang telah berakhir. Perlu ada langkah-langkah antisipasi lainnya karena menurutnya saat ini perekonomian global masih belum sepenuhnya pulih dari ketidakpastian global.

"Hal-hal positif ini masih dibayangi oleh hal-hal yang tidak pasti," kata Sri Mulyani.

Salah satunya adalah masih belum jelas bagaimana mekanisme dagang antara satu negara dengan negara lainya. Sehingga menurnya diperlukan reformasi kebijakan dari organisasi perdagangan dunia (World Trade Organization/WTO).

"Perlu melakukan reformasi, jadi bentuk reformasinya seperti apa, pengaruhnya kepada perdagangan dunia mungkin harus kita antisipasi. Karena kita lihat sebuah krisis 2008-2009 volume perdagangan dan transaksi perdagangan dunia masih belum peak up," jelasnya.

Baca Juga: Sri Muyani Cerita soal Trump dan Xi Jinping yang Berdamai hingga 90 Hari

Kekhawatiran itu juga bahkan membuat pertumbuhan ekonomi global juga masih dalam posisi yang tidak stabil. Bahkan ketidakstabilan perekonomian dunia ini juga membuat OECD merevisi pertumbuhan ekonomi global dari 3,9% menjadi 3,5%.

"Tahun depan global growth tidak sekuat tahun ini, maka kita perlu untuk jamin domestic demand kita cukup kuat dan resilient," kata Sri Mulyani.

Lalu perekonomian global juga masih harus menghadapi kebijakan dari Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) yang berencana menaikkan suku bunga acuannya (Fed Fund Rate) menjelang penutupan tahun nanti. Tentunya wacana kenaikan suku bunga itu akan menimbulkan gejolak khususnya bagi nilai tukar mata uang negara-negara dunia termasuk Rupiah.

"Kemarin muncul sentimen suku bunga meningkat dan statment policy dari The Fed dan itu memberikan sentimen yang luar biasa dan membuat dolar menguat di antara negara-negara lain," jelasnya

(fbn)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini