nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pengusaha Akan Ganti Dolar AS ke Yuan China

Koran SINDO, Jurnalis · Kamis 06 Desember 2018 11:40 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 12 06 20 1987538 pengusaha-akan-ganti-dolar-as-ke-yuan-china-XxDDQLL8Ho.jpg Ilustrasi: Foto Shutterstock

JAKARTA – Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) pada tahun depan berencana melakukan konversi transaksi perdagangan ekspor impor dari dolar Amerika Serikat (USD) ke mata uang mitra dagang salah satunya yuan China.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia Hariyadi Sukamdani mengatakan, tujuan konversi transaksi perdagangan ini untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap dolar AS.

Dia mengakui saat ini transaksi perdagangan impor ekspor di Tanah Air masih berpatokan pada mata uang dolar AS.

“Kita optimistis akan bisa mengonversi mata uang yang selama ini bergantung dengan USD itu sebagian besar akan bisa diubah ke mata uang mitra kita, jadi dalam hal ini yang kita referensikan pertama dengan China,” kata Hariyadi di Jakarta.

 Baca Juga: Mendag Lembong Bujuk Pengusaha Gunakan Yuan China

Menurutnya, selama ini para pelaku usaha umumnya bergantung pada mata uang dolar AS, padahal mitra dagang Indonesia lebih besar mengarah ke China.

Total perdagangan Indonesia sekitar USD60 miliar dengan komposisi nilai impornya sebesar USD35 miliar dan nilai ekspornya mencapai USD26 miliar.

“Kalau bisa dikonversi sampai dengan misalnya antara USD 20 miliar saja dari perdagangan dengan China, ini akan membuat efek yang sangat positif. Kita berharap upaya ini juga nantinya bisa di sambut dengan baik oleh mitra perdagangan lainnya apakah dengan Jepang, Korea, dan sebagainya,” paparnya.

 Baca Juga: Perdagangan Dunia, RI Bisa Gunakan RMB

Lebih lanjut dia menyatakan, Apindo yakin pada tahun depan nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar AS akan semakin menguat hingga di bawah Rp14.000 per dolar AS. Hal tersebut didukung oleh berbagai peluang ekonomi yang terjadi sepanjang 2019.

“Untuk asumsi dolar AS, kita meyakini tahun depan akan turun di bawah Rp14.000. Jadi kami meyakini kira-kira di angka Rp13.800 karena kita melihat bahwa tren harga minyak dunia kemungkinan akan turun,” ujarnya.

Dengan semakin menguatnya mata uang rupiah, kata Hariyadi, Apindo berharap hal ini juga bisa menjadi pertimbangan bagi Bank Indonesia (BI) untuk menurunkan suku bunga acuan.

Seperti diketahui, hingga November 2018 Bank Indonesia telah menaikkan bunga acuan hingga 175 basis poin (bps) atau 1,75%. Langkah ini dilakukan oleh BI untuk menjaga stabilitas moneter.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Apindo Shinta Widjaja Kamdani menambahkan, ketidakpastian global yang dipicu perang dagang antara Amerika Serikat dan China tidaklah mudah diselesaikan.

Meskipun sempat ada pertemuan antara kedua pemimpin negara Adi Kuasa tersebut dalam acara G- 20, namun hal ini bukan akhir dari perang dagang.

“lni bukan suatu yang mudah diselesaikan begitu saja, gapnya terlalu besar, keputusan AS juga tidak diterima negara lain. Walaupun ada perjanjian bilateral antara kedua negara, tapi masalah ini belum selesai. Ini jalan panjang yang harus diselesaikan lebih ke konsep ke depannya akan seperti apa,” terangnya.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini