nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Rupiah Sempat Melemah, BI: Dipengaruhi Kekhawatiran Pasar

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Jum'at 07 Desember 2018 20:06 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 12 07 278 1988322 rupiah-sempat-melemah-bi-dipengaruhi-kekhawatiran-pasar-FG4Xc9kiL3.jpeg Uang Rupiah (Foto: Kurniasih/Okezone)

JAKARTA - Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat sempat mengalami pelemahan. Rupiah kini bergerak di level Rp14.400 per USD.

Bank Indonesia (BI) mencatat pasar keuangan global Rupiah hari ini, Jumat (7/12/2018) sempat melemah ke 14.550 per USD, namun di tutup di Rp14.465 per USD atau menguat Rp50 (0,32%) dibandingkan penutupan hari sebelumnya di Rp14.515 per USD.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI Nanang Hendarsah menyatakan, pergerakkan nilai tukar Rupiah dipengaruhi risk-off dan aksi flight to quality yang mewarnai pasar keuangan global. Setidaknya penutupan Rupiah hari ini membaik dari sebelumnya didorong intervensi Bank Sentral dalam bentuk transaksi DNDF (Non-Deliverable Forward).

 Baca Juga: BI Ungkap Alasan Rupiah Melemah Lagi ke Rp14.500/USD

"Namun aktifnya Bank Indonesia intervensi dalam bentuk transaksi DNDF sepanjang sesi perdagangan, Rupiah berhasil di tutup di Rp14.465 (per USD)," jelas dia kepada Okezone, Jumat (7/12/2018).

Dia menjelaskan, risk off di pasar keuangan global terutama dipicu kekhawatiran pasar terhadap kembali meningkatnya tensi sengketa dagang antara AS dan China. Hal ini menyusul ditangkapnya CFO Huawei Techologies, Wanzhou Meng di Kanada yang akan diekstradisi ke AS.

Kekhawatiran pasar tersebut mendorong pelemahan indeks saham global, sementara yield UST berlanjut turun hingga ke 2.83%, jadi level terendah sejak September 2018. Hal ini karena meningkatnya ekspektasi pasar terhadap perlambatan ekonomi AS menyusul rilis data ekonomi AS yang melemah.

Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Melemah Jadi Rp14.940 per Dolar AS 

"Kurva imbal hasil (yield curve) di pasar oabligasi AS cenderung inverted, bahkan spread yield obligasi 2 dan 5 tahun sudah negatif," kata dia.

Selain itu, risiko global juga dipengaruhi beberapa data ekonomi AS yang dirilis, mengindikasikan ekonomi AS tidak sesolid tiga bulan sebelumnya. Di mana penyerapan tenaga kerja di bawah ekspektasi, defisit perdagangan melebar menjadi yang terbesar dalam 10 tahun terakhir, hingga pesanan pabrikan melambat.

Baca Juga: Jelang Akhir Pekan, Rupiah Melemah ke Rp14.533/USD

"Juga probabilitas kenaikan suku bunga Fed Fund Rate di Desember 2018 menurun dari 80% menjadi 69%," ucapnya.

Nanang menjelaskan, risk-off di pasar keuangan global tersebut (fear of recession) memicu melonjaknya kurs NDF-IDR di pasar New York hingga Rp14.680 per USD.

"Sejak pembukaan pasar hingga penutupan, Bank Indonesia melakukan intervensi transaksi DNDF dan berhasil menurunkan kurs DNDF yang kemudian diikuti oleh menurunnya kurs NDF di pasar luar negeri dan kurs spot di dalam negeri," pungkas dia.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini