nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

BI Ungkap Alasan Rupiah Melemah Lagi ke Rp14.500/USD

Taufik Fajar, Jurnalis · Jum'at 07 Desember 2018 14:29 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 12 07 278 1988126 bi-ungkap-alasan-rupiah-melemah-lagi-ke-rp14-500-usd-17McycKNAE.jpg Uang Rupiah (Foto: Okezone)

JAKARTA - Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih menunjukkan tren pelemahan pada pembukaan pagi ini. Rupiah masih belum lepas dari level Rp14.500-an per USD.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara menyatakan bahwa Rupiah pada hari ini dan hari sebelumnya memang melemah. Namun, pelemahan mata uang bukan hanya terjadi di Indonesia, tapi juga di dunia.

"Faktor yang penting adalah pada waktu penguatan Rupiah atau pelemahan kurs. Yakni pelemahan kurs dolar Amerika Serikat (AS), ada harapan bahwa perang dagang AS dan China itu mereda, karena kan pertemuan G20,"ujarnya di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Jumat (7/11/2018).

Baca Juga: Polemik Brexit Picu Pelemahan Rupiah

Tapi, lanjut dia, ternyata perang dagang AS dan China itu belum mereda, salah satu yang ditangkap pasar adalah Direktur Huawei di Kanada yang mencerminkan perang dagang belum mereda.

"Perang dagang ini dikhawatirkan makin memperlambat ekonomi dunia, respons dari bank sentral China yang melakukan depresiasi kurs yuan, sehingga hal ini yang membuat depresiasi kurs emerging market," tuturnya.

Dia menuturkan, pelemahan kurs dalam tiga hari terakhir, terus satu lagi adalah terjadinya penjualan saham di pasar global. Di mana saham itu bergerak berdasarkan ekspektasi terhadap Pertumbuhan Ekonomi (PE) dan terhadap pertumbuhan laba.

"Angka-angka dari Amerika Serikat menunjukkan terjadi perlambatan perekonomian, artinya akan terjadi perlambatan pertumbuhan laba perusahaan. Dan pasar saham bereaksi akhirnya penjualan saham bereaksi. Itu yang menular ke negara emerging market termasuk Indonesia, jadi memang ada outflow di pasar saham," ungkapnya.

Baca Juga: Pengusaha Yakin Rupiah Berada di Level Rp13.800 pada 2019

Kemudian, tutur dia, lihat juga ada tanda-tanda perlambatan tercermin di pasar saham di Amerika Serikat yang turun itu juga tercermin kurva surat utang AS itu turun. Maka itu menunjukkan bahwa akan terjadi perlambatan, tapi belum terjadi, ini akan terjadi, nah pasar kan selalu bereaksi lebih awal.

"Jadi itu yang kira-kira kita lihat kenapa terjadi pelemahan kurs di emerging market temasuk indonesia setelah terjadi penguatan, ada pelemahan kembali tentu adalah fenomena global," pungkasnya.

 

(fbn)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini