3. Kementerian BUMN Menilai Utang Rp5.271 Masih Aman
Total liabilitas BUMN per September 2018 (unaudited) mencapai Rp5.271 Triliun, di mana total aset mencapai Rp7.718 Triliun, meningkat Rp508 Triliun dari Rp7.210 Triliun per Desember 2017. Perlu diketahui juga bahwa total utang sebesar Rp5.271 Triliun tersebut didominasi oleh sektor jasa keuangan sebesar Rp3.300 Triliun di mana hampir 75 persennya merupakan Dana Pihak Ketiga (DPK) dari perbankan.
"Kondisi utang BUMN tersebut masih dalam kondisi yang aman. Bila dibandingkan dengan rata-rata industri mengacu pada data dari Bursa Efek Indonesia, bahwa rasio Debt to Equity BUMN masing-masing sektor masih berada di bawah rata-rata Debt to Equity industri," ujar Deputi Bidang Restrukturisasi dan Pengembangan Usaha Kementerian BUMN, Aloysius K Ro.
4. Ternyata Ini Penyebab Meningkatnya Utang BUMN
Dengan adanya pembangunan yang terus digenjot pemerintah, membuat biaya operasional berlebihan yang berpotensi BUMN gagal bayar utang.
Pengamat Ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira mengatakan bahwa faktor yang berisiko menaikkan utang BUMN terus membengkak adalah tak adanya efesiensi didalam tubuh manejemen perusahaan.
Bhima menambahkan, pembangunan infrastruktur yang gencar dilakukan membuat hutang terus meningkat. Ia mencontohkan seperti pada proyek pembangunan 35.000 megawatt yang dinilai berlebihan.
"Yang membuat hutang BUMN meningkat salah satunya kita lagi senang bangun infrastruktur, infrastruktur maupun penugasan itu sebetulnya tujuannya sangat bagus, tidak ada perdebatan lagi lah soal infrastructur kita perlu atau engga. Contoh infrastruktur 35.000 megawattt itu kalau terus dipaksakan akan ada kelebihan pasokan sampai bisa sampai 30%. Infrastruktur memang perlu, tapi yang lebih perlu rasionalisasi proyeknya," ungkapnya.
(Feby Novalius)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.