Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Punya Kekayaan Rp192 Triliun, Begini Keseharian Mantan Bos Google

Koran SINDO , Jurnalis-Selasa, 11 Desember 2018 |11:41 WIB
Punya Kekayaan Rp192 Triliun, Begini Keseharian Mantan Bos Google
(Foto: CNN Money)
A
A
A

JAKARTA - Sejak tidak lagi menjadi Chairman Alphabet, Eric Schmidt tetap berupaya untuk sibuk. Sebagian besar kesibukannya adalah mengisi berbagai seminar, membagikan ilmunya memimpin raksasa internet dunia, Google, selama satu dekade kepada masyarakat umum.

Dengan kekayaan mencapai USD13,2 miliar atau Rp192,72 triliun (kurs Rp14.600 per USD), Schmidt mungkin menjadi satu-satunya orang yang bukan pendiri perusahaan yang menjadi sangat kaya. Kekayaannya itu didapatkannya dari kepemilikan saham Google saat menjabat sebagai CEO.

Baca Juga: Miliarder Mukesh Ambani Nikahkan Putrinya, Gelar Pesta Paling Mewah di India

Di tangan Schmidt, Google meroket menjadi raksasa internet terbesar di dunia. Karena itu, Schmidt dianggap sangat layak mendapatkan kekayaannya itu. Belum lama ini dia bergabung di Massachusetts Institute of Technology, membantu mengembangkan kecerdasan buatan manusia dan mesin. Dia juga menjabat penasihat MIT Intelligence Quest yang melakukan riset terhadap kecerdasan manusia.

Schmidt melakukan hal tersebut bersama istrinya, Wendy Schmidt, dan lewat yayasan yang dikelola bersama. “Filantropi adalah tentang energi dan kecepatan. Kami berupaya membuat program dan mengumpulkan orang-orang yang melakukan riset selama bertahuntahun terhadap sains,” beber Schmidt.

Schmidt juga memberikan banyak masukan kepada para founders startup. Saran yang paling sering dia berikan adalah soal keberagaman. “Terlalu sering kita berinvestasi pada orang yang sudah dikenal,” ungkap Schmidt. Dia sendiri sangat mendorong keberagaman dan inklusi. “Perusahaan harus terbuka untuk membawa orang-orang dari negara dan latar belakang lain,” ujarnya.

Baca Juga: Kisah Sukses Miliarder Tertua Dunia: Tetap Bekerja ke Kantor Meski Kaya Raya

Dia mengatakan bahwa kewirausahaan tidak akan berkembang jika orang-orang pergi ke satu institusi dan hanya mempekerjakan orang-orang itu saja. Schmidt juga menyoroti ketidakseimbangan gender dalam industri teknologi. Dia optimistis tentang representasi perempuan dalam teknologi yang meningkat, memprediksi bahwa ketidakseimbangan gender teknologi akan lenyap dalam satu generasi. Schmidt juga menyoroti bagaimana teknologi kurang digunakan untuk mengatasi masalah sosial.

“Kita tidak membangun platform teknologi terbaik untuk mengatasi tantangan sosial yang besar karena tidak menguntungkan. Ada 1 juta aplikasi e-commerce , tetapi tidak cukup platform khusus untuk berbagi dan menganalisis data dengan aman pada tunawisma, perubahan iklim, atau pengungsi,” katanya.

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement