JAKARTA - Sebagai seorang CEO, tangan dingin Eric Schmidt sudah diakui. Dialah orang yang turut membesarkan Google.
Namun, Schmidt juga tidak malu menyebut kegagalannya, terutama di jaringan sosial Google, Google Groups. “Saya kira, kami tidak sepenuhnya memahami cara melakukannya,” ungkapnya.
Dalam sebuah wawancara, mantan CEO Google itu mengatakan bahwa kegagalan perusahaan untuk membangun jaringan sosial terbesar masa depan sebagian besar adalah kesalahannya.
Baca Juga: Punya Kekayaan Rp192 Triliun, Begini Keseharian Mantan Bos Google
“Saya akui bahwa munculnya Facebook dan lainnya terjadi pada masa saya,” ujar Schmidt. Dia mengatakan, hal tersebut karena usianya. “Karena kami tidak menggunakannya secara kolektif, kami tidak sepenuhnya memahami cara melakukannya,” ungkapnya.
“Ya, saya harus bertanggung jawab atas kegagalan ini,” kata Schmidt mengacu pada Google Groups, sebuah produk yang kebanyakan orang hanya digunakan untuk membuat grup email, padahal ditujukan untuk media sosial.

“Ada banyak hal yang tidak beres. Tetapi, karena saat itu saya menjadi CEO, itu mungkin salah satu kesalahan fatal yang saya lakukan,” tuturnya.
Google+ bisa jadi upaya Google yang paling agresif untuk memasuki jejaring sosial. Diluncurkan pada Juni 2011, berbulan-bulan setelah Schmidt menyerahkan tugas CEO ke Larry Page pada Januari, meski ada beberapa jejaring sosial lainnya yang salah sasaran, termasuk Google Buzz dan Google Wave yang nahas.
Baca Juga: Miliarder Mukesh Ambani Nikahkan Putrinya, Gelar Pesta Paling Mewah di India
Salah satu dari beberapa titik terang sejarah Google adalah akuisisi YouTube pada 2006. “Hari ini kami memiliki jaringan sosial cukup kuat yang tertanam di YouTube , tapi saya pikir itu adil untuk mengatakan bahwa kebangkitan Facebook dll terjadi pada masa saya menjadi CEO,” kata Schmidt.
(Feby Novalius)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.