Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Menguat 0,16%, Rupiah Pagi Ini di Rp14.585

Ade Rachma Unzilla , Jurnalis-Rabu, 12 Desember 2018 |09:42 WIB
Menguat 0,16%, Rupiah Pagi Ini di Rp14.585
Ilustrasi: Foto Okezone
A
A
A

JAKARTA – Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat tipis di pembukaan pagi ini. Meski demikian, Rupiah masih berada di level Rp14.500 per USD.

Dilansir dari Bloomberg Dollar Index, Rabu (12/12/2018) pukul 9:18 WIB, Rupiah pada perdagangan spot exchange dibuka menguat 23 poin atau 0,16% ke level Rp14.585 per USD. Rupiah hari ini bergerak di kisaran Rp14.574 per USD – Rp14.585 per USD.

Sementara itu, YahooFinance mencatat Rupiah menguat 15 poin atau 0,10% ke Rp14.580 per USD. Dalam pantauan YahooFinance, Rupiah bergerak di kisaran Rp14.550 per USD – Rp14.582 per USD.

Baca Juga: Ikuti Pasar Saham, Rupiah Melemah ke Rp14.607

Sebelumnya, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI Nanang Hendarsah menyatakan, pergerakkan nilai tukar Rupiah dipengaruhi risk-off dan aksi flight to quality yang mewarnai pasar keuangan global. Setidaknya penutupan Rupiah hari ini membaik dari sebelumnya didorong intervensi Bank Sentral dalam bentuk transaksi DNDF (Non-Deliverable Forward).

Namun aktifnya Bank Indonesia intervensi dalam bentuk transaksi DNDF sepanjang sesi perdagangan, Rupiah berhasil di tutup di Rp14.465 (per USD)," jelas dia kepada Okezone.

Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Melemah Jadi Rp14.940 per Dolar AS

Dia menjelaskan, risk off di pasar keuangan global terutama dipicu kekhawatiran pasar terhadap kembali meningkatnya tensi sengketa dagang antara AS dan China. Hal ini menyusul ditangkapnya CFO Huawei Techologies, Wanzhou Meng di Kanada yang akan diekstradisi ke AS.

Kekhawatiran pasar tersebut mendorong pelemahan indeks saham global, sementara yield UST berlanjut turun hingga ke 2.83%, jadi level terendah sejak September 2018. Hal ini karena meningkatnya ekspektasi pasar terhadap perlambatan ekonomi AS menyusul rilis data ekonomi AS yang melemah.

Baca Juga: Rupiah Kembali Terpuruk ke Level Rp14.612 per USD

"Kurva imbal hasil (yield curve) di pasar oabligasi AS cenderung inverted, bahkan spread yield obligasi 2 dan 5 tahun sudah negatif," kata dia.

Selain itu, risiko global juga dipengaruhi beberapa data ekonomi AS yang dirilis, mengindikasikan ekonomi AS tidak sesolid tiga bulan sebelumnya. Di mana penyerapan tenaga kerja di bawah ekspektasi, defisit perdagangan melebar menjadi yang terbesar dalam 10 tahun.

(Feby Novalius)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement