Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

PGE Turunkan Target Pembangunan Pembangkit Panas Bumi Jadi 1.112 MW

Koran SINDO , Jurnalis-Kamis, 13 Desember 2018 |09:58 WIB
PGE Turunkan Target Pembangunan Pembangkit Panas Bumi Jadi 1.112 MW
Ilustrasi Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (Foto: Okezone)
A
A
A

JAKARTA – PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) menargetkan kapasitas pembangunan pembangkit panas bumi hingga 2026 mencapai 1.112 Megawatt (MW). Proyeksi tersebut lebih rendah dibandingkan dengan perencanaan awal sebesar 2.100 MW.

“Jadi angka 1.112 MW merupakan angka realistis untuk bisa di capai menyesuaikan dengan portofolio induk usaha secara korporat. Apalagi pengembangan panas bumi membutuhkan waktu setidaknya lima tahun hingga akhirnya bisa beroperasi komersial,” ujar Direktur Utama PGE Ali Mundakir di Jakarta.

Menurut dia, untuk mencapai target tersebut, PGE berupaya mengembangkan sejumlah aset wilayah kerja panas bumi eksisting.

Baca Juga: Fakta-Fakta Pemasangan Panel Surya Atap, Perhatikan Nomor 2

Adapun terdapat 14 wilayah kerja panas bumi yang saat ini dikerjakan Pertamina dan sejumlah wilayah kerja sudah beroperasi komersial. Saat ini kapasitas terpasang PLTP PGE mencapai 617 MW berasal dari pembangkit panas bumi, seperti PLTP Area Kamojang di Jawa Barat, PGE Area Ulubelu Unit I & II di Lampung, PLTP Area Lahendong unit IV DI Sulawesi Utara, dan PLTP Karaha Unit I di Jawa Barat.

Pihaknya menargetkan tahun depan akan beroperasi PLTP Lumut Balai dengan kapasitas 55 MW di Sumatera Selatan. Bertambahnya kapasitas itu PLTP PGE akan bertambah Tahun depan akan beroperasi pembangkit panas bumi lainnya, salah satunya PLTP Lumut Balai Unit 1 sebesar 55 MW di Sumatera Selatan.

Alhasil, kapasitas terpasang PLTP Pertamina bertambah menjadi 700 MW pada 2019. Sementara pada 2021 hingga 2023, kapasitas terpasang PLTP PGE akan bertambah 220 MW. Ini berasal dari sejumlah pembangkit PGE yang akan beroperasi.

Ali mengatakan, pengembangan panas bumi membutuhkan investasi besar. Selain itu, investasi di sektor panas bumi juga memiliki risiko tinggi dan tingkat pengembalian investasi lebih dari 20 tahun. Biaya paling besar dari bisnis geotermal ada di upstreamnya sebesar 60%.

“Sementara sisi downstream memakan biaya sebesar 40%. Kalau dibandingkan dengan energi fosil atau batu-bara dan air memang lebih mahal. Ini juga jadi salah satu kendala dalam pengembangan,” katanya. Pihaknya berencana melakukan optimasi terhadap Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB) yang sudah ada. Salah satunya, kata dia, menggunakan teknologi baru.

“Kita sedang jajaki untuk menggunakan finery dan sudah melakukan MoU dengan salah satu provider yang ada untuk pemanfaatan optimasi lapangan yang ada,” tuturnya.

Baca Juga: Perkuat Sistem Kelistrikan dengan PLTU Sintang

Menurutnya, untuk setiap kilowatt yang terpasang butuh biaya sekitar USD5.000. Jika pemasangan dilakukan permegawatt, biaya yang dibutuhkan mencapai USD5 juta.

Direktur Keuangan PT Pertamina (Persero) Pahala Mansury mengatakan hal senada. Menurutnya pengembangan PLTP membutuhkan biaya tidak sedikit.

Hal itu menjadi tantangan untuk perseroan. “Kondisi ini jadi tantangan buat kita dan harus menemukan solusi bagaimana mendukung investasi panas bumi agar lebih menarik,” kata dia.

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement