Sri Mulyani Buka Peluang Swasta Kelola Aset Negara

Giri Hartomo, Jurnalis · Senin 17 Desember 2018 20:15 WIB
https: img.okezone.com content 2018 12 17 320 1992590 sri-mulyani-buka-peluang-swasta-kelola-aset-negara-N9uUiErZWv.jpg Menteri Keuangan Sri Mulyani (Foto: Facebook Sri Mulyani)

JAKARTA - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mendorong agar Lembaga Manajemen Aset Negara (LMAN) untuk berkolaborasi dengan swasta khususnya dalam mengelola properti yang merupakan aset negara.

Menurutnya, dengan kerjasama tersebut diharapkan bisa menciptakan produktivitas terhadap aset negara. Khususnya dalam meningkatnya value terhadap aset negara.

"Jadi kita harus terus berinovasi, di sektor publik harus komersial menjadi attractive kalau secara sosial ekonomi itu value yang sangat penting," ujarnya di Kantor Kementerian Keungan, Jakarta, Senin (17/12/2018).

Baca Juga: Fakta-Fakta Pengelolaan Aset Negara demi Dongkrak Ekonomi

Menurut Sri Mulyani, swasta memiliki kompetensi untuk membuat aset negara memberikan nilai tambah. Karena menurutnya, swasta selalu memiliki rasa gatal apabila asetnya dibiarkan menganggur tanpa adanya manfaat yang didapatkan.

"Sementara untuk swasta karena dia tau untuk membangun. Membutuhkan suatu resource sehingga ketika aset terbangun seluruh prosesnya sendiri memenuhi sikap peduli dan upaya yang luar biasa aset tersebut memiliki hasil guna yang luar biasa," jelasnya.

Selain swasta, Sri Mulyani juga ingin agar pengelolaan aset bisa mengikuti perubahan teknologi. Apalagi saat ini pemerintah telah mengusung revolusi industri 4.0 seiring berkembangnya teknologi digital. 

"Key player di dalam pengelolaan properti khususnya bagi pengelola properti negara yang berbasis teknologi," jelasnya.

Baca Juga: Nilai Barang Milik Negara Melesat Jadi Rp5.728 Triliun

Disisi lain dirinya juga mendorong agar masyarakat lebih peka terhadap aset negara. Masyarakat harus bisa mengiritasi apabila aset negara dibiarkan begitu saja tanpa dikelola oleh pemerintah.

"Masyarakat meningkat kesadaran dan sensitivitas yang tinggi apabila ada aset yang dinaikan tidak produktif," ucapnya.

(fbn)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini