nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Ingin Lewat Tol Trans Jawa? Ini Kuliner yang Wajib Dicoba

Koran SINDO, Jurnalis · Minggu 23 Desember 2018 11:02 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 12 23 320 1995011 ingin-lewat-tol-trans-jawa-ini-kuliner-yang-wajib-dicoba-8wo25VXOCH.jpg Kuliner Sepanjang Tol Trans Jawa (Foto: Koran Sindo)

JAKARTA – Memasuki musim libur Natal 2018 dan Tahun Baru 2019 masyarakat dimudahkan dengan tersambungnya tol trans-Jawa dari Jakarta hingga Surabaya.

Selain menyediakan konektivitas, sajian kuliner pantura Jawa juga bisa dicicipi masyarakat. Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Darat beberapa waktu lalu melakukan sosialisasi kuliner pantura Jawa bagi pengguna jalur tol trans-Jawa.

Sosialisasi dalam buku panduan setebal 80 halaman itu memberikan sajian sekitar 70 makanan khas kota-kota yang dilalui tol trans-Jawa. Dari ayam bekakak, sate rondeng hingga rujak soto jawa timur bisa menjadi panduan pengendara yang meniatkan perjalanannya sebagai perjalanan wisata kuliner.

Pengamat transportasi dari Unika Soegijapranata Semarang Djoko Setijowarno menyarankan, perjalanan yang diniatkan sebagai wisata hendaknya menikmati kuliner di kota-kota khas. Misalnya di Cirebon dengan sajian khas empal gentongnya.

”Itu berarti pengendaranya harus keluar tol dulu untuk singgah ke Cirebon, kemudian berangkat lagi,” ucapnya. Namun bagi pengendara yang tak ingin berlama-lama ada baiknya menikmati santapan khas umat masakan padang atau rumah makam sederhana yang banyak dijumpai di sepanjang rest area.

Selain itu, untuk meniatkan perjalanan di jalur tol trans- Jawa sebagai perjalanan wisata, para pengendara harus menyiapkan anggaran. Pengamat kuliner Gupta Sitorus melihat promosi yang dilakukan pemerintah untuk memperkenalkan kuliner Nusantara melalui jalan tol trans-Jawa merupakan promosi yang tepat.

Bukan saja bermaksud membuat perjalanan lebih menyenangkan, tetapi lebih dari itu promosi kuliner semacam ini banyak digandrungi kalangan milenial. ”Kita bisa membayangkan bahwa betapa mudahnya menikmati sajian kuliner Jawa hanya dengan berkendara di tol trans-Jawa dan anak muda milenial saya lihat tepat, unik perjalanan seperti ini,” ujarnya.

Generasi milenial adalah generasi yang punya ketertarikan luar biasa terhadap makanan. Makanan oleh generasi ini dianggap juga sebagai cara paling mudah untuk memahami budaya. Gupta mengatakan setiap daerah punya kekhasan kuliner.

Di Jawa Barat, kulinernya masih berasa manis, sedangkan sampai ke Surabaya gurih pedas. ”Dan penikmat wisata melalui perjalanan trans-Jawa bisa mencoba sensasinya,” papar Gupta. Gupta berharap ke depan tentu akan banyak perbaikan yang perlu dilakukan dari sisi pelayanan di sekitar rest area tol trans-Jawa.

Menurut dia yang paling penting adalah menjaga kekhasan atau otentisitas resep dan jangan hanya jualan kuliner karena beranggapan pengendara butuh makan saja. Pakar kuliner Indonesia William Wongso mengatakan, tak mudah menarik minat para pengguna jalan tol agar mau mengeksplorasi kekayaan kuliner yang ada di sepanjang area tol trans-Jawa.

Pasalnya, menurut William, dibutuhkan usaha cukup besar untuk melakukan hal tersebut, yaitu keluarmasuk tol. Kecuali para pengguna tol itu memang sengaja menyusuri tol trans- Jawa ini untuk berwisata kuliner.

Umumnya mereka yang memilih jalan tol menginginkan cepat sampai ke kota tujuan. Bila dalam perjalanan butuh makan, tinggal singgah di rest area . Lain halnya jika pengguna jalan tol ini memang sengaja ingin wisata kuliner di sepanjang jalur pantura.

”Tidak masalah bila harus keluar tol, masuk ke kota, lalu kembali ke jalan tol untuk melanjutkan perjalanan ke kota lain. Kalau begini butuh usaha yang cukup besar untuk mencicipi kuliner di kota-kota pantura,” kata William.

Maka untuk memudahkan masyarakat, William menyarankan agar pemerintah menyediakan tempat makan di dalam wilayah tol, bisa berada di rest area ataupun dengan membuat sentra kuliner khusus. Kurasi dari pihak yang berkompeten sangat diperlukan untuk menentukan siapa yang layak berjualan makanan di sana.

Chef Stefu Santoso berpendapat, pemerintah daerah dan pusat perlu menata kota terlebih dulu agar lebih bersih. Kota yang bersih akan membuat orang mau mengunjungi kota tersebut, kemudian tertarik mencoba kulinernya.

”Akan menjadi daya tarik jika kuliner tersebut dikemas sebaik-baiknya, menjaga citarasa dan kebersihan, tempatnya pun nyaman. Sebab ketika di perjalanan orang akan singgah untuk beristirahat, namun bisa juga tertarik untuk mencoba makanan setelah melihat tempatnya yang nyaman,” kata sang chef.

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini