nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Apple Jadi Korban Perang Dagang AS-China

Mulyani, Jurnalis · Kamis 03 Januari 2019 15:15 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 01 03 320 1999468 apple-jadi-korban-perang-dagang-as-china-TkrX7XnNsp.jpg Ilustrasi (Foto: Reuters)

JAKARTA – Pertumbuhan ekonomi China yang melambat dan perang dagang yang berkelanjutan, membuat Apple berada di jalur yang mengkhawatirkan. Perdagangan saham Apple menjadi yang terlemah sejak 1990, bahkan pada 2019 akan lebih buruk lagi.

Dilansir dari CNN, Kamis (3/1/2018), sebagai ekonomi terbesar kedua, China merasakan dampak dari prospek perdagangan yang semakin gelap. Pemerintah China pun telah mengupayakan untuk mengendalikan pinjaman berisiko setelah utangnya naik cepat.

China merupakan pasar yang sangat besar bagi Apple. Sekira 15% berkontribusi pada pendapatan perusahaan secara global.

Baca Juga: Saham Apple Anjlok, Warren Buffet Rugi Rp40,6 Triliun

“Sementara kami mengantisipasi beberapa tantangan di pasar-pasar berkembang utama, kami tidak melihat besarnya perlambatan ekonomi, khususnya di China Raya,” ujar Chief Executive Officer Apple Timothy Donald Cook, dalam surat yang ditulisnya.

Saat ini, Apple mengharapkan pendapatan bulan Desember sekitar USD84 miliar atau turun dari kisaran perkiraan sebelumnya antara USD89 miliar dan USD93 miliar. Sebelumnya, Iphone merupakan salah satu produk Apple terlaris selama bertahun-tahun, dengan penjualan terhitung hampir 60% dari total penjualan Apple dalam tiga bulan yang berakhir pada September lalu.

Saham Apple mengalami penurunan sebesar 8% setelah dihentikannya penjualan saham selama beberapa jam. Hal itu membuat Apple kehilangan USD55 miliar dari nilai pasar saham perusahaan.

Sementara itu, Cook fokus pada dampak China, dan mencatat dalam surat bahwa jumlah orang yang mengupgrade ke iPhone baru tidak sebanyak yang diharapkan perusahaan di pasar lain yang lebih maju.

Baca Juga: Keuntungan Apple dan Alphabet Bakal Tergerus, Ini Penyebabnya

Secara khusus, dia menunjuk lebih sedikit subsidi operator dan dolar AS yang lebih kuat membuat perangkat lebih mahal di luar negeri. Kemudian, Apple membuat keputusan untuk menawarkan penggantian baterai senilai USD29 untuk iPhone. Kebijakan tersebut dikeluarkan untuk meredakan kemarahan konsumen setelah diketahui bahwa Apple memperlambat iPhone lama.

Namun pengakuan tentang peningkatan ini dapat memicu kekhawatiran investor tentang melemahnya permintaan untuk lineup baru iPhone yang diperkenalkan di musim gugur. Beberapa pemasok komponen iPhone memangkas penjualan mereka di bulan November.

Pada Oktober lalu, Apple mengejutkan investor dengan mengatakan pihaknya berencana untuk berhenti mengungkapkan jumlah iPhone yang terjual setiap kuartal.

Dalam suratnya kepada investor, Cook mempermasalahkan penarikan lanjutan di bisnis non-iPhone, termasuk perangkat yang dapat dikenakan layanan tambahan, seperti iCloud, Apple Pay, dan App Store. Namun dia mengakui bahwa penurunan perkiraan penjualannya mengecewakan.

(fbn)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini