nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

AirAsia Terbitkan Surat Utang Rp 1,172 Triliun

Jum'at 04 Januari 2019 13:55 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 01 04 278 1999908 airasia-terbitkan-surat-utang-rp-1-172-triliun-8ntux80GmB.jpg Ilustrasi: Shutterstock

JAKARTA - Dalam rangka mendanai ekspansi bisnisnya, PT Indonesia AirAsia (IAA), anak usaha PT AirAsia Indonesia Tbk (CMPP) akan menerbitkan sekuritas perpetual atau 'surat berharga bersifat utang' senilai US$ 80 juta atau setara Rp1,172 triliun. Nantinya, oleh AirAsia Berhard (AAB), perpetual tersebut diserap dengan perjanjian perpetual sekuritas bersyarat atau Conditional Perpetual Capital Security Purchase Agreement pada tanggal 31 Desember 2018.

Baca Juga: AirAsia Bakal Jual 25 Pesawat Senilai Rp11,2 Triliun

Direktur CMPP Dinesh Kumar menyampaikan, penerbitan sekuritas perpetual itu mendongkrak ekuitas IAA agar pada akhir tahun 2018 menjadi positif untuk memenuhi kebijakan internal Kementerian Perhubungan dan membayar tagihan-tagihan yang jatuh tempo. ”Apabila tidak dibayar segera akan berdampak secara material dan signifikan terhadap kelangsungan operasional, usaha dan kinerja IAA serta perseroan secara tidak langsung,”kata Dinesh dikutip dari Harian Neraca, Jumat (4/1/2018).

IHSG Menguat 0,57 Persen ke Posisi 6.152,86  

Rencananya, penerbitan sekuritas perpetual diberikan dalam tiga tahap. Pertama, senilai 37,5% dari total nilai. Tahap kedua, sebesar 37,5% pada 31 Januari 2019 dan tahap ketiga sebesar 25% dari total nilai sekuritas perpetual tersebut. Sehingga nilai transaksi tersebut sebesar 50% dari ekuitas perseroan jika mengacu pada laporan keuangan audit 2017.

Hanya saja, penerbitan sekuritas perpetual tersebut direncanakan rampung pada tanggal 28 Februari 2019, dan jika nilainya masih 50% dari laporan keuangan 2018 yang tengah di audit, maka perseroan bersedia memperoleh persetujuan pemegang saham independen. Sedangkan beban bunga yang akan ditanggung IAA adalah 2% per tahun selama 12 bulan efektif sejak perjanjian tersebut dibuat. Pada tahun kedua sampai tahun ketujuh akan dikenakan 8% per tahun. IAA juga dikenakan 5% dari tarif distribusi dengan step-up margin.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini