nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Sederet Dampak Perang Dagang AS-China Awal 2019, Apple Sudah Jadi Korban

Taufik Fajar, Jurnalis · Kamis 10 Januari 2019 19:18 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 01 10 20 2002759 sederet-dampak-perang-dagang-as-china-awal-2019-apple-sudah-jadi-korban-AltL9fyj92.jpg Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) menyebut bahwa perkembangan nilai tukar Rupiah saat ini berkembang secara positif, walaupun adanya ancaman global pada awal 2019.

"Kita lihat, ancaman global memang ada, walaupun tadi malam ada perkembangan positif dari negosiasi sengketa dagang Amerika Serikat-China dan The Fed sudah beri indikasi akan lebih fleksibel dalam respons ekonomi AS," ujar Direktur Eksekutif Kepala Departemen Moneter BI, Jakarta, Kamis (10/1/2019).

Artinya, lanjut dia kebijakannya akan lebih dovish. Di mana ancaman global yang nyata adalah meningkatnya ekspektasi pelemahan ekonomi global. World Bank juga sudah revisi, tapi di China dan Jerman, Spanyol dan Prancis sektor manufaktur terus merosot.

Baca Juga: AS-China Sepakati Gencatan Perang Dagang

"Samsung dan Apple revenue-nya menurun ini menunjukan perang dagang sudah beri efek yang cukup signifikan terhadap lalu lintas perdagangan global yang justru kena adalah sektor manufaktur yang susah global value chain. Tapi belum tentu Rupiah terdampak," tuturnya.

Dia menuturkan, The Fed akan lebih berfikir berkali-kali untuk terus naikkan suku bunga, karena kalau ekonomi AS keluar dan tidak dikurangi, China, Eropa Jepang. AS tidak bisa berjalan sendiri untuk tumbuh kuat sehingga pasar sudah lebih price in di pasar overnight index swap sudah perkirakan 2019 tidak ada kenaikan suku bunga.

"Memang ada gap tapi sudah menyempit. Dengan ada Presiden The Fed yang beri statement lebih dovish kami yakin berdasarkan pasar price in menangani suku bunga The Fed ke depan inetsitasnya akan lebih rendah tentu ini akan buat tekanan ke negara emerging lebih rendah," ujarnya.

Maka itu, tutur dia, secara keseluruhan dalam analisis global tekananya sudah mengurang tapi emang ketidakpastiannya tetap harus waspadai. Pasalnya kalau BI lihat dinamika 2018 dalam 3 bulan bisa berubah di kuartal tiga semua negara masih solid dan di kuartal empat sudah ada perlambatan.

Baca Juga: AS dan China Kehilangan Miliaran Dolar Akibat Perang Dagang

"Jadi ketidakpastian lebih karena growth yang melambat sehingga yang direspon kebijakan moneternya tidak tinggi dengan respon suku bunga," katanya.

Dia mengatakan, dengan kondisi global yang masih tidak pasti seharunya berpeluang kepada Rupiah tetap stabil. Beda pada situasi 2018 yang dinamika global sedang meningkat sekarang banyak hal-hal yang sudah dekati solusi termasuk trade war dan The Fed.

“Dari dometik kita sudah lewati level psikologis yang cukup tinggi dan ini sudah tersentuh kan. Memang ada kekhawatiran di masyarkaat dan sudah tersentuh. Apabila kalau udah tersentuh dan ekonomi kita stabil. Jadi menurut saya kalau bergerak dari Rp14.000 ke Rp15.000 masyarakat sudah terbiasa dengan pergerakan itu," katanya.

(fbn)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini