nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Di Depan Wapres JK, Ketua OJK Pamer Kinerja Industri Keuangan Sepanjang 2018

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Jum'at 11 Januari 2019 22:01 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 01 11 20 2003369 di-depan-wapres-jk-ketua-ojk-pamer-kinerja-industri-keuangan-sepanjang-2018-KWcLoeFHHm.jpg Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan 2019 (Foto: Okezone)

JAKARTA - Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso memaparkan sejumlah kinerja sektor jasa keuangan sepanjang 2018 dalam Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan (PTIJK). Dalam kesempatan itu, hadir Wakil Presiden Republik Indonesia Jusuf Kalla.

Wimboh menyatakan, sepanjang 2018 di tengah kondisi gejolak ekonomi global, ekonomi Indonesia dinilai stabil dengan pertumbuhan diperkirakan sebesar 5,15% dan inflasi yang terjaga di 3,13%. Hal ini seiring dengan kondisi sektor jasa keuangan yang juga tercatat stabil dan sehat.

Dia menjelaskan, pada 2018 OJK mencatat intermediasi sektor keuangan dapat terjaga dengan baik, terlihat dari pertumbuhan kredit perbankan yang menunjukkan tren peningkatan sebesar 12,9%, lebih tinggi dari pertumbuhan di 2017 yang sebesar 8,24%.

"Demikian juga kinerja intermediasi lembaga pembiayaan, yang diperkirakan tumbuh di sekitar 6," katanya di Hotel Ritz Carlton, Jakarta, Jumat (11/1/2019).

Baca Juga: OJK Targetkan 100 Perusahaan Baru Tercatat di BEI Sepanjang 2019

Di sisi lain, akselerasi kredit dan pembiayaan diikuti dengan profil risiko kredit juga dinilai terjaga. Rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) gross perbankan dalam tren menurun sebesar 2,37% dan NPL net 1,14%. Adapun rasio Non Performing Finance (NPF) tercatat sebesar 2,83% dan NPF net 0,79%.

Likuiditas perbankan juga dikatakan cukup memadai, meskipun rasio kredit terhadap simpanan (Loan to Deposit Ratio/LDR) meningkat menjadi 92,6%. Hal ini dapat dilihat dari excess reserve perbankan yang tercatat sebesar Rp529 triliun. Sedangkan, Rasio Alat Likuid terhadap Non-Core Deposit dan Liquidity-Coverage Ratio (LCR) masing-masing sebesar 102,5% dan 184,3%, jauh diatas threshold masing-masing sebesar 50% dan 100%.

Sementara itu dari sisi pasar modal, Wimboh mengatakan jumlah emiten baru sepanjang 2018 tercatat sebanyak 62 emiten. Capaian ini lebih tinggi dibandingkan 2017 sebanyak 46 emiten, dengan nilai penghimpunan dana sebesar Rp 166 triliun.

"Total dana kelolaan investasi yang dicapai sebesar Rp 746 triliun, meningkat 8,3% dibandingkan akhir tahun 2017," imbuhnya.

Baca Juga: Wapres JK Ajak Pelaku Industri Keuangan Ikut Memperbaiki Defisit Transaksi Berjalan dan Perdagangan

Sisi permodalan lembaga jasa keuangan juga dinilai cukup memadai dalam menghadapi tantangan ke depan. Di mana Capital Adequacy Ratio (CAR) perbankan tercatat sebesar 23,32% sedangkan Risk-Based Capital industri asuransi umum dan asuransi jiwa masing-masing sebesar 315% dan 412%, lebih tinggi dari threshold 120%.

Gearing ratio perusahaan pembiayaan pun tercatat sebesar 2,97 kali, jauh di bawah threshold maksimal sebesar 10 kali. Menurutnya, seluruh capaian ini jadi modal penting untuk industri jasa keuangan tumbuh lebih baik di 2019.

“Juga untuk meningkatkan perannya sebagai motor penggerak pertumbuhan ekonomi dan katalis keberhasilan reformasi struktural,” pungkasnya.

(fbn)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini