nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Turun 4,89%, Ekspor Desember 2018 Capai USD14,83 Miliar

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Selasa 15 Januari 2019 11:30 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 01 15 320 2004626 turun-4-89-ekspor-desember-2018-capai-usd14-83-miliar-Wr4UatS4bs.jpeg Kepala BPS Suhariyanto (Foto: Yohana/Okezone)

JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor Indonesia pada Desember 2018 mencapai USD14,18 miliar. Realisasi ini mengalami penurunan 4,89% dari bulan November 2018 sebesar USD14,91 miliar.

Bila dibandingkan dengan laju ekspor pada Desember 2017 yang mencapai USD14,86 juga mengalami penurunan 4,62%.

"Nilai ekspor Desember mencapai USD14,18 miliar. Mengalami penurunan bila dibandingkan dengan November 2018, maupun dibanding dengan Desember 2017," ujar Kepala BPS Suhariyanto dalam konferensi pers di Gedung Pusat BPS, Jakarta, Selasa (15/1/2019).

Baca Juga: Target Realistis Ekspor 2019 Sebesar 7,5%

Dia menjelaskan, penurunan dari laju ekspor ini didorong terjadinya penurunan ekspor komoditas nonmigas sebesar 8,15%, yakni USD13,53 miliar pada November menjadi USD12,43 miliar pada Desember 2018.

Sebaliknya, pada migas terjadi peningkatan ekspor sebesar 27,34%, yakni USD1,37 miliar di November menjadi USD12,43 miliar di Desember 2018. BPS mencatat pada Desember terjadi penurunan harga ICP menjadi USD54,81 per barel dari bulan sebelumnya USD62,98 per barel.

"Komoditas dari ekspor non migas yang mengalami kenaikan nilai yakni karet, perak dan emas. Sedangkan yang turun tembaga, nikel dan minyak kelapa sawit. Seperti diketahui, kelapa sawit itu memberi pengaruh besar karena menjadi komoditas utama ekspor indonesia," jelasnya.

bps

Secara rinci, komoditas non migas yang mengalami kenaikan ekspor tertinggi yakni perhiasan atau permata sebesar USD84,9 juta, bubur kayu atau pulp USD38,6 juta, pakaian jadi bukan rajutan USD34,9 juta, timah USD34 juta, dan barang-barang rajutan USD25,6 juta.

Sedangkan komoditas yang mengalami penurunan ekspor terendah yakni lemah dan minyak hewan atau nabati sebesar USD70,8 juta, kendaraan dan bagiannya USD82,2 juta, besi dan baja USD138,7 juta, bahan bakar mineral USD142,6 juta, lalu bijih, kerak dan abu logam sebesar USD278,7 juta.

"Penurunan ini juga didorong adanya perlambatan ekonomi di beberapa negara yang jadi mitra dagang Indonesia," pungkasnya.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini