nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Habiskan Rp460,38 Miliar, Tower Bersama Buyback 96,21 Juta Saham

Rabu 16 Januari 2019 14:00 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 01 16 278 2005215 habiskan-rp460-38-miliar-tower-bersama-buyback-96-21-juta-saham-kcW7L93CDl.jpg Indeks Harga Saham Gabungan (Ilustrasi: Okezone)

JAKARTA - Sepanjang tahun 2018, PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) telah membeli kembali atau buyback saham dari sebanyak 96,21 juta saham. Rata-rata harga pembelian kembali saham-saham tersebut Rp4.785 per saham. Jika ditotalkan di tahun 2018, TBIG telah mengeluarkan dana sebesar Rp460,38 miliar untuk aksi korporasi tersebut.

Sebelumnya, April 2018 pemegang saham menyetujui rencana untuk membeli kembali sebanyak 204 juta saham atau 4,5% dari saham yang dilepas oleh emiten. Adapun jumlah dana yang disiapkan untuk melancarkan aksi ini mencapai Rp1,2 triliun. Sehingga dana yang tersisa untuk aksi buyback sebesar Rp739,61 miliar.

Baca Juga: Kuras Rp35,4 Miliar, Tower Bersama Kuasai 51% Saham Visi Telekomunikasi

Saham tersebut dapat dibeli kembali melalui bursa dan persetujuan RUPS berlaku selama 18 bulan sejak 30 April 2018 sampai dengan 30 Oktober 2019. Pada penutupan perdagangan sesi I Selasa (15/1), saham TBIG menguat 1,31% atau setara Rp60 pada level harga Rp4.630. Tahun ini, perseroan mengalokasikan belanja modal hingga Rp2 triliun untuk ekspansi.

Direktur Keuangan TBIG Helmy Yusman Santoso pernah bilang, belanja modal tersebut akan digunakan untuk menambah 2.500 tenant baik di pulau Jawa dan di luar Jawa. Penambahan tenant yang akan dilakukan sangat tergantung pada permintaan operator telekomunikasi. Tower Bersama akan siap mendukung ekspansi yang akan dilakukan oleh operator telekomunikasi.

ihsg

Diakui Yusman, target penambahan penyewaan tahun ini tidak begitu agresif. Pasalnya, perseroan masih fokus pada pertumbuhan organik. Namun tidak menutup peluang untuk mengakuisisi perusahaan lain untuk meningkatkan portofolio. Kata Helmy, upaya untuk mengakuisisi pun tidak mudah mengingat terbatasnya ketersediaan menara di pasar. “Pertumbuhan anorganik akan selalu kami jajaki tapi belum ada targetnya. Kalau ada operator telekomunikasi yang mau menjual towernya, kami juga berminat. Sebagai pembeli, kami akan lihat valuasinya berapa,” ujar Helmy dilansir dari Harian Neraca, Rabu (16/1/2019).

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini