nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Fakta Defisit Neraca Perdagangan Terburuk Sepanjang Sejarah, Nomor 4 Solusinya

Koran SINDO, Jurnalis · Rabu 16 Januari 2019 10:36 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 01 16 320 2005090 fakta-defisit-neraca-perdagangan-terburuk-sepanjang-sejarah-nomor-4-solusinya-Yikew2pPo1.jpg Ilustrasi: Foto Koran Sindo

JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data defisit neraca perdagangan Indonesia pada 2018 sebesar USD8,57 miliar. Capaian ini merupakan angka defisit terbesar sejak 1975.

Impor migas merupakan penyumbang defisit terbesar. Oleh karena itu, harus ada solusi untuk menekan impor migas tersebut.

Berikut fakta-fakta defisit neraca perdagangan Indonesia yang telah dirangkum dari Koran Sindo, Jakarta, Rabu (16/1/2019):

1. Indonesia 6 kali Alami Defisit

Indonesia mengalami defisit neraca perdagangan sebanyak enam kali. Periodenya adalah tahun 1945, 1975, 2012, 2013, 2014, dan 2018. Berdasarkan data BPS, pada 2012 neraca dagang Indonesia mengalami defisit USD1,7 miliar. Kemudian pada 2013 dan 2014 juga terjadi defisit USD4,08 miliar dan USD1,89 miliar.

Baca Juga: Neraca Dagang Defisit, Menko Darmin Akui Sulit Tekan Impor Migas

Sedangkan tahun 1975, Indonesia mengalami defisit USD391 juta, tapi BPS belum memiliki data untuk tahun 1945. ”Dengan melihat pergerakan ini, pekerjaan rumah kita adalah harus menggerakkan ekspor sehingga neraca perdagangan kembali positif. Walaupun di sisi lain, banyak tantangan sesuai prediksi pertumbuhan ekonomi global yang tidak terlalu menggembirakan,” tuturnya.

2. Perbandingan Nilai Ekspor dengan Impor di 2018

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, secara kumulatif nilai ekspor tahunan Indonesia pada 2018 mencapai USD180,06 miliar atau meningkat 6,65% dibanding tahun 2017. Sedangkan nilai impor tahun 2018 mencapai USD188,63 miliar atau meningkat 20,15% dibanding tahun 2017.

Kondisi itu menyebabkan defisit neraca dagang Indonesia membengkak menjadi USD8,57 miliar. ”Jika dilihat penyebabnya, yaitu lebih karena defisit migas sebesar USD12,4 miliar, sedangkan untuk nonmigas kita masih surplus USD3,8 miliar,” kata Suhariyanto di Jakarta, kemarin.

3. Apa yang di Ekspor dan Impor selama 2018

Suhariyanto memaparkan, sepanjang tahun lalu ekspor nonmigas mencapai USD162,65 miliar atau meningkat 6,25%. Menurut sektor, ekspor nonmigas hasil industri pengolahan Januari–Desember 2018 naik 3,86% dibanding tahun 2017 yang disumbang ekspor besi/ baja.

Baca Juga: Defisit Neraca Perdagangan 2018 Terburuk Sejak 1975

Demikian juga ekspor produk pertambangan dan lainnya meningkat 20,47% yang disumbang meningkatnya ekspor batu bara, sedangkan ekspor produk pertanian menurun 6,40% disebabkan menurunnya ekspor kopi. Dari sisi impor, peningkatan terjadi pada impor migas dan nonmigas masing-masing USD5,5 miliar (22,59%) dan USD26,2 miliar (19,71%).

Lebih lanjut peningkatan impor migas disebabkan naiknya impor seluruh komponen migas, yaitu minyak mentah USD2 miliar (29,70%), hasil minyak USD3 miliar (21,02%), dan gas USD340,3 juta (12,49%). Selama tiga belas bulan terakhir, nilai impor migas tertinggi tercatat pada Agustus 2018 dengan nilai mencapai USD3 miliar dan terendah terjadi pada Desember 2018, yaitu USD2 miliar.

Sementara nilai impor nonmigas tertinggi tercatat pada Juli 2018 sebesar USD15,6 miliar dan terendah pada Juni 2018 dengan nilai USD9,1 miliar. Tiga negara pemasok barang impor nonmigas terbesar selama Januari–Desember 2018 adalah China dengan nilai USD45,24 miliar (28,49%), JepangUSD17,94miliar( 11,30%), dan Thailand USD10,85 miliar (6,83%).

Sementara itu, nilai impor semua golongan penggunaan barang, baik barang konsumsi, bahan baku/penolong, dan barang modal selama Januari– Desember 2018 mengalami peningkatan dibanding periode sama tahun sebelumnya masing- masing 22,03%, 20,06%, dan 19,54%.

4. Ini Hal yang Harus Dilakukan Guna Mengurangi Defisit

Ekonom Institute for Development of Economic and Finance (Indef) Bhima Yudhistira menyatakan, untuk mengatasi besarnya defisit neraca perdagangan tersebut, pemerintah harus mendorong peningkatan lifting minyak di Tanah Air dengan menciptakan investasi migas yang berkualitas khususnya di bidang eksplorasi.

Baca Juga: Neraca Perdagangan 2018 Diprediksi Defisit hingga USD8 Miliar

Selain itu, kata Bhima, pemerintah juga harus mampu menekan impor migas melalui percepatan program Mandatory Biodiesel 20% (B20). Bhima mengakui, saat ini masih ada kendala dalam pasokan bahan baku FAME dan kesiapan pengguna bahan bakar tidak bersubsidi (non-PSO) dalam serapan B20.

Seperti diketahui, pemerintah berusaha mengendalikan impor dengan mengerem laju 1.147 komoditas konsumsi dan modal serta berupaya menerapkan program B20. ”Pemerintah juga diminta segera menunda proyek infrastruktur yang berkontribusi pada tingginya impor bahan baku dan barang modal. Terakhir, dari sisi ekspor kuncinya adalah hilirisasi industri,” tuturnya.

5. Bagaimana dengan Perdagangan di 2019?

Sebelumnya, Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita mengatakan, untuk menjaga stabilisasi ekonomi Indonesia di masa depan, ada beberapa hal yang perlu diantisipasi baik di lingkup global maupun domestik.

Baca Juga: BPS: Neraca Perdagangan 2018 Defisit USD8,57 Miliar

Pada lingkup global, hal-hal yang perlu diantisipasi yaitu perekonomian global yang tumbuh melambat 3,7%, volume perdagangan dunia yang tumbuh 4%, serta harga beberapa komoditas nonmigas seperti minyak sawit, karet, kopi, kakao, teh, udang, kayu gergajian, dan barang tambang (aluminium, tembaga, nikel, dan timah) yang diprediksi menguat 0,3-3,9%.

Sementara tantangan domestik berupa daya saing nasional yang masih perlu ditingkatkan, stabilisasi nilai tukar Rupiah, dan risiko politik dari terselenggaranya pemilu serentak 2019.

”Pemerintah optimis dan realistis menghadapi tantangan ekonomi global dan domestik. Dengan mempertimbangkan berbagai tantangan tersebut, target pertumbuhan nilai ekspor nonmigas 2019 ditetapkan moderat 7,5%,” ujarnya. Selain itu, Kemendag juga berkomitmen menyelesaikan 12 perjanjian perdagangan internasional di tahun 2019.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini