Utang Luar Negeri Indonesia Tembus USD372,9 Miliar, BI: Masih Sehat

Giri Hartomo, Jurnalis · Kamis 17 Januari 2019 17:50 WIB
https: img.okezone.com content 2019 01 17 20 2005851 utang-luar-negeri-indonesia-tembus-usd372-9-miliar-bi-masih-sehat-CFXt4z8Vco.jpg Ilustrasi: Foto Okezone

JAKARTA - Bank Indonesia mencatat utang luar negeri (ULN) pada akhir November 2018 sebesar USD372,9 miliar. Adapun rinciannya adalah utang pemerintah sebesar USD183,5 miliar dan utang swasta termasuk Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sebesar USD189,3 miliar.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara mengatakan, posisi utang luar negeri Indonesia masih terkendali dengan struktur yang sehat. Pasalnya saat ini utang luar negeri Indonesia berada di angka 30% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

"ULN pemerintah dan korporasi plus perbankan masih sehat 30% dari PDB," ujarnya dalam acara konferensi pers di Bank Indonesia, Jakarta, Kamis (17/1/2019).

 Baca Juga: Bisakah Indonesia Hidup Tanpa Utang Luar Negeri? Ini Jawaban BI

Menurut Mirza, pihaknya bersama dengan pemerintah tidak akan terlena dengan angka tersebut. Pihaknya bersama dengan instansi terkait pun menyiapkan beberapa antisipasi kebijakan.

Seperti salah satu contohnya adalah dengan penerbitan aturan hedging dan rating yang dikeluarkan Bank Indonesia. Dalam aturan tersebut, perusahaan yang ingin menerbitkan global bond harus memiliki rating minimal BB minus.

"Kalau korporasi 2014 BI menerbitkan aturan hedging dan rating. Jadi ada aturan minimum rating BB minus perusahaan yang apakah menerbitkan bonds memenuhi aturan tersebut," katanya.

 Baca Juga: Utang Luar Negeri Indonesia Naik Lagi Jadi USD327,9 Miliar

Sementara untuk BUMN sendiri jika ingin meminjam uang dari luar negeri harus mengantongi izin dari Kementerian BUMN hingga Kementerian Keuangan, sehingga risiko gagal bayar seperti yang ditakutkan bisa dicegah.

"BUMN juga harus minta izin dan ada kewajiban hedging. Risk management tools untuk monitor mengenai ULN," katanya.

Lagi pula menurut Mirza, utang luar negeri buka sesuatu yang berbahaya. Asalkan menurutnya, risiko dan rasionya tetap bisa dijaga di level aman. "Yang penting perusahaan sehat, kami akan jaga rasio agar tetap sehat," ucapnya.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini