JAKARTA – Resmi mencatatkan saham perdananya di pasar modal, PT Nusantara Properti Internasional Tbk (NATO) masuk dalam kategori efek syariah oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Penetapan efek syariah tersebut tertuang dalam keputusan nomor KEP- 80/D.04/2018 tentang Penetapan Saham PT Nusantara Properti Internasional Tbk (NATO) sebagai Efek Syariah.
OJK menyebutkan, dikeluarkannya keputusan tersebut adalah sebagai tindak lanjut dari hasil penelaahan OJK terhadap pemenuhan kriteria efek syariah atas pernyataan pendaftaran yang disampaikan oleh perseroan. Disebutkan, sumber data yang digunakan sebagai bahan penelaahan berasal dari dokumen pernyataan pendaftaran serta data pendukung lainnya berupa data tertulis yang diperoleh dari emiten maupun dari pihak–pihak lainnya yang dapat dipercaya.
Baca Juga: Alasan OJK Izinkan Kredit Kendaraan Tanpa DP
Secara periodik, OJK akan melakukan kajian atas daftar efek syariah berdasarkan laporan keuangan tengah tahunan dan laporan keuangan tahunan dari emiten atau perusahaan publik. Kajian atas daftar efek syariah juga dilakukan apabila terdapat emiten atau perusahaan publik yang pernyataan pendaftarannya telah menjadi efektif dan memenuhi kriteria efek syariah atau apabila terdapat aksi korporasi, informasi, atau fakta dari emiten atau perusahaan publik yang dapat menyebabkan terpenuhi atau tidak terpenuhinya kriteria efek syariah.
Tahun ini, perseroan menargetkan pertumbuhan pendapatan sebesar 30% menjadi Rp30 miliar, naik dari estimasi pendapatan tahun lalu sebesar Rp23 miliar. "Target pendapatan kami di 2019 sebesar Rp20-30 miliar. Lebih tinggi dibandingkan dengan tahun lalu di Rp23 miliar," kata Direktur Keuangan Nusantara Properti Dessy Christian dilansir dari Harian Neraca, Senin (21/1/2019).
Disampaikannya, beroperasinya tiga properti milik perusahaan di tiga wilayah berbeda di Bali mendorong perusahaan optimistis pendapatan tahun ini bisa lebih tinggi dibandingkan dengan tahun lalu. Adapun laba bersih tahun ini tidak akan bergerak jauh dari estimasi perolehan laba perusahaan tahun lalu sekitar Rp5 miliar dan laba kotor sebesar Rp15 miliar.

Dessy mengatakan pendapatan akan meningkat tajam setelah pembangunan dua resor milik perseroan di Pulau Selayar dan Pulau Rote rampung pada 2021. Meski demikian, Dessy enggan menyebutkan berapa potensi pertumbuhan bisnis ke depan. Saat ini, katanya, perusahaan tengah mengkaji pembangunan resor di Kalimantan Utara mengingat pembangunan resor ini nantinya berlokasi di sekitar pertambangan batu bara.
Pada debut perdana di pasar modal Jumat akhir pekan kemarin, saham NATO dibuka naik 72 poin atau 69,9% ke Rp175. Emiten properti ini melepas 2 miliar saham di harga Rp103/saham. Dari aksi korporasi ini perusahaan memperoleh dana senilai Rp206 miliar. Sebesar 80% dana dari aksi initial public offering (IPO) korporasi ini akan disetorkan kepada anak usaha sebagai peningkatan penyertaan modal. Dana tersebut akan digunakan untuk biaya pengembangan resor, sementara 20% lain akan dipakai untuk biaya renovasi resor oleh anak usaha lain dan pembayaran utang.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)