nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Obligasi Pemerintah Akan Gerus Likuiditas Perbankan

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Rabu 30 Januari 2019 21:39 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 01 30 20 2011634 obligasi-pemerintah-akan-gerus-likuiditas-perbankan-xPLhwMrYIz.jpg Ilustrasi: Foto Shutterstock

JAKARTA - Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai, ke depan perbankan akan semakin mengalami pengetatan likuiditas. Hal ini didorong dampak penerbitan surat utang atau obligasi pemerintah dan beralihnya dana masyarakat dari perbankan ke sektor non-bank.

Ekonom Senior Indef Aviliani mengatakan, selama ini pembiayaan tertinggi terjadi bank umum kelompok usaha (BUKU) III dan IV. Hal ini membuat likuiditas bank tersebut mengalami pengetatan dan sulit melakukan ekspansi bisnis.

Padahal bank BUKU III dan IV menjadi daya penggerak pertumbuhan ekonomi nasional. Pengetatan likuiditas tersebut terlihat dari rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) bank BUKU III mencapai 103% dan BUKU IV mencapai 97%.

"Kalau BUKU I dan II ekspansi bisnis itu tergantung uang pemilik, enggak bisa jadi daya dukung (pertumbuhan ekonomi) nasional," kata dia dalam acara Dialog Ekonomi Perbankan di Hotel Aryaduta, Jakarta, Rabu (30/1/2019).

Kondisi likuiditas perbankan yang mengetat tersebut akan semakin didorong penerbitan obligasi pemerintah. Sebab, banyak dana masyarakat akan beralih ke obligasi tersebut.

Baca Juga: BI Cek Kerja Sama Bank dengan Alipay-WeChat

Dengan demikian, kata Aviliani, akan terjadi ada perebutan likuiditas yang akan menjadi masalah pada industri perbankan di 2019.

"Karena bonds (obligasi) pemerintah lebih tinggi dari bunga bank. Sehingga akan ada perebutan likuiditas antara bunga bank dan pemerintah," kata dia.

Di sisi lain, perkembangan teknologi membuat dana masyarakat beralih ke sektor non-bank. Bahkan sepuluh tahun ke depan, diperkirakan 45% dana masyarakat akan beralih ke fintech.

Dia menjelaskan, fintech peer to peer lending menawarkan imbal hasil yang lebih besar, sehingga memikat untuk berinvestasi. Disisi lain, ada juga sistem pembayaran dengan teknologi kode respon cepat (Quick Response Code/QR) yang menawarkan kemudahan dalam bertransaksi.

Baca Juga: BI Wajibkan Dealer Treasury Bersertifikat dan Jadi Anggota ACI

"Fintech itu dana untuk diputarkan dengan yield (imbal hasil) lebih tinggi dan akan terjadi ke depan perubahan termasuk sistem pembayaran ada Go-Pay dan OVO. Itu membuat orang melakukan pembayaran bukan di debit atau kredit, tapi dari situ. Itu akan mengurangi pendapatan bank," jelasnya.

Oleh sebab itu, ekosistem keuangan ke depannya akan menjadi tantangan berat bagi perbankan. Maka, Aviliani mengimbau perbankan harus mampu beradaptasi yakni bekerjasama dengan fintech.

"Bank harus berkolaborasi dengan fintech dan sistem pembayaran lain. Ke depannya memang bank akan tetap berfungsi tapi berkurang," kata dia.

(fbn)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini