Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Indonesia Ekspor 700 Ton Baja ke Australia dan Sri Lanka

Koran SINDO , Jurnalis-Jum'at, 01 Februari 2019 |11:07 WIB
Indonesia Ekspor 700 Ton Baja ke Australia dan Sri Lanka
Pelabuhan. Foto: Shutterstock
A
A
A

JAKARTA – Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita melepas ekspor produk 300 ton baja struktur ke Sri Lanka dan 400 ton pelat baja ke Australia yang merupakan produksi PT Gunung Raja Paksi Tbk (GRP).

Enggar mengapresiasi kinerja PT GRP yang sukses melaksanakan ekspor pertama dalam tahun ini. ”Ekspor baja PT Gunung Raja Paksi ini merupakan sebuah momentum yang sangat luar biasa. Ini bisa menjadi katalis sangat penting untuk tidak saja mendorong pertumbuhan industri domestik, namun juga terus menangkap peluang pasar global dan meningkatkan ekspor nasional,” kata Enggar dalam rilisnya di Jakarta, kemarin. Enggar mengatakan, besi dan baja merupakan komoditas sangat penting bagi pembangunan suatu bangsa. Besi dan baja merupakan bahan yang dipakai dalam berbagai industri karena sifatnya bervariasi dan fleksibel mulai dari industri konstruksi dan bangunan, automotif, sampai dengan peralatan dapur dan rumah tangga.

Baca Juga: Indonesia Bakal Ekspor Tempe

”Kinerja ekspor Indonesia perlahan mulai menunjukkan performa yang baik, Kemendag terus melakukan penyesuaian berbagai kebijakan dan regulasi,” ujarnya. Total ekspor Indonesia mengalami kenaikan dari USD168,82 miliar pada 2017 menjadi USD180,06 miliar pada 2018 atau naik sebesar 6,65%. Sedangkan ekspor non migas mencapai USD162,65 miliar atau naik sebesar 6,25%. Adapun untuk ekspor besi dan baja Indonesia mengalami kenaikan yang tajam dari USD3,33 miliar pada 2017 menjadi USD5,75 m iliar pada 2018 atau naik sebesar 72,4%. Sebagai salah satu perusahaan nasional berorientasi ekspor, saat ini PT GRP telah mengekspor produknya ke berbagai negara di dunia.

Enggar menegaskan, kebijakan yang bertujuan mendorong pertumbuhan industri dalam negeri dan daya saing produk ekspor Indonesia tidak bisa berdiri sendiri tanpa adanya peran aktif para pelaku usaha. Oleh karena itu, kata dia, pemerintah terus mendorong PT GRP agar dapat meningkatkan kontribusinya dalam perdagangan global. Dengan begitu, nanti bisa mengembangkan pasar tujuan ekspor ke negara lain di antaranya ke Amerika Serikat. Terutama setelah ditandatanganinya nota kesepahaman (MoU) antara Hanwa American Corp dengan Gunung Steel Group untuk ekspor baja batangan sebanyak 50.000 MT.

Defisit Neraca Perdagangan

CEO Gunung Raja Paksi Alouisius Maseimilian mengungkapkan, perseroan optimistis kinerja perusahaan bisa te rus meningkat terutama didukung dengan akan beroperasinya fasilitas blast furnacepada semester II/2019. Dengan fasilitas terbaru ini, perusahaan memiliki kemampuan meningkatkan kapasitas produksi bahan baku utama berupa slab yang dihasilkan dari penyerapan sumber bijih besi lokal dan mengurangi biaya produksi.

”Fasilitas ini merupakan upaya perusahaan agar mampu memenuhi kebutuhan baja nasional yang terus meningkat setiap tahunnya, serta membuka peluang penjualan lebih banyak lagi di mancanegara. Peningkatan kemampuan tersebut tentu berkat dukungan pemerintah, terutama Kemendag, yang membantu mengatasi hambatan perdagangan ekspor melalui berbagai regulasi,” katanya. Enggar mengatakan, pelaku usaha seperti PT Gunung Raja Paksi merupakan mitra penting pemerintah dalam mendorong pertumbuhan perekonomian Indonesia.

Hal ini khususnya sebagai mitra yang mendukung kebijakan perdagangan luar negeri di sektor riil yang terus bergerak mendorong ekspor. Berbagai upaya Kemendag dalam meningkatkan daya saing dan pangsa pasar ekspor produk Indonesia, yaitu diversifikasi pasar dengan membidik pasar nontradisional, seperti Afrika, Asia Selatan, Timur Tengah, Eurasia, dan Amerika Latin.

(Heru Febrianto)

(Kurniasih Miftakhul Jannah)

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement