nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pertumbuhan Ekonomi RI 2018 Diprediksi Hanya 5,15%

Giri Hartomo, Jurnalis · Rabu 06 Februari 2019 08:39 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 02 06 20 2014210 pertumbuhan-ekonomi-ri-2018-diprediksi-hanya-5-15-6hntHVhWgt.jpg Ilustrasi: Foto Shutterstock

JAKARTA - Pertumbuhan ekonomi Indonesia dikuartal IV diperkirakan berada di kisaran 5,13% hingga 5,16%. Angka ini lebih rendah dibandingkan realisasi pertumbuhan ekonomi di kuartal III yang mencapai 5,17%.

Pengamat Ekonomi Institute for Development of Economic and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira mengatakan, pertumbuhan ekonomi di kuartal IV 2018 ditunjang oleh konsumsi rumah tangga. Apalagi adanya peningkatan konsumsi rumah tangga pada libur natal dan tahun baru.

"Pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV diprediksi mencapai 5,13%-5,16%. Pencairan belanja pemerintah pusat maupun daerah di akhir tahun turut membantu dorongan pertumbuhan," ujarnya saat dihubungi Okezone, Rabu (6/2/2019).

 Baca Juga: Hari Ini BPS Umumkan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2018

Sementara itu lanjut Bhima, komponen investasi di kuartal IV-2018 ini tidak banyak mendongkrak pertumbuhan ekonomi. Karena pada triwulan IV ini, angka investasi cenderung melambat dikarenakan faktor eksternal dan internal.

"Sementara komponen investasi cenderung melambat seiring gejolak perekonomian global, dan jelang Pilpres 2019 investor menahan diri masuk ke indonesia," katanya.

Sementara itu lanjut Bhima, dari sisi perdagangan Indonesia masih mengalami defisit. Apalagi angka ekspor Indonesia di akhir tahun ini anjlok.

Ada beberapa penyebab yang membuat ekspor Indonesia anjlok di triwulan keempat ini. Salah satunya adalah efek perang dagang antara Amerika Serikat dan China.

 Baca Juga: Sri Mulyani: Pertumbuhan Ekonomi Jangan Hanya Bergantung pada Komoditas

Di sisi lain, anjloknya ekspor Indonesia juga disebabkan oleh jatuhnya beberapa harga komoditas ekspor Indonesia. Salah satu uang menjadi sorotan adalah harga sawit dunia seiring adanya pencekalan terhadap parlemen uni Eropa.

"Dari net ekspor tidak banyak yang bisa membantu disebabkan anjloknya harga komoditas energi dan pertambangan di akhir tahun. Ekspor ke negara tujuan utama karena perlambatan ekonomi global serta naiknya impor migas pada periode Oktober hingga Desember," katanya.

Sementara itu untuk pertumbuhan ekonomi tahunan 2018 diperkirakan hanya mencapai 5,15%. Pertumbuhan ekonomi masih ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang tumbuh di kisaran 5%.

Sementara itu belanja Pemerintah memainkan peran penting sepanjang tahun 2018. Meskipun porsinya hanya 9,5%-10% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

"Ke depannya, belanja infrastruktur, sosial PKH, dana desa serta persiapan pemilu masih diharapkan support pertumbuhan ekonomi," katanya.

Sementara itu, lanjut Bhima, tantangan sebenarnya ada pada komponen net ekspor yang mengalami pelemahan. Hal tersebut dikarenakan adanya perang dagang antara Amerika Serikat dengan China.

"Tantangannya ada pada komponen net ekspor yang melemah akibat efek perang dagang, penurunan harga komoditas perkebunan, dan tingginya impor BBM," kata Bhima.

 Baca Juga: Optimistis di Tengah Turunnya Proyeksi Ekonomi Global

Sementara itu dari sisi investasi juga belum terlalu mengangkat. Pasalnya realisasi investasi hanya tumbuh 4,1% (year on year/yoy) sepanjang 2018.

"Kinerja investasi pun sulit untuk diandalkan karena data realisasi investasi hanya tumbuh 4,1% secara yoy sepanjang 2018," tuturnya.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini