nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

REI Bakal Bangun 200.000 Rumah Murah

Koran SINDO, Jurnalis · Rabu 06 Februari 2019 08:49 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 02 06 470 2014213 rei-bakal-bangun-200-000-rumah-murah-Us1OXw959l.jpg Ilustrasi: Foto Shutterstock

JAKARTA - Persatuan Perusahaan Real Estat Indonesia (REI) sepanjang 2018 telah membangun sebanyak 394.686 unit rumah rakyat di seluruh Tanah Air.

REI menargetkan mampu membangun 200.000 rumah murah pada 2019 ini. Pembangunan hunian terjangkau bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) tersebut akan berada di seluruh Indonesia.

Rumah murah itu ditujukan bagi masyarakat berpenghasilan rendah yang belum memiliki hunian layak. Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) REI Soelaeman Soemawinata berharap, industri properti akan tumbuh lebih baik tahun ini, dibanding 2018.

 Baca Juga: Wapres JK Temui REI Bahas Properti Indonesia

Dengan demikian, target pembangunan hunian bagi MBR sebanyak 200.000 unit akan segera terlaksana. Sementara untuk pembangunan rumah non-MBR juga ditargetkan sebanyak 200.000 hunian.

“Mudah-mudahan industri properti secara umum bisa reborn karena pada akhir 2018, para pengembang sudah mulai persiapan membangun pada 2019 ini. Jadi, kita komitmen dan konsisten kepada pembangunan rumah untuk rakyat ini,” ujar Soelaeman.

Dia mengungkapkan, sudah melakukan pertemuan membahas mengenai perkembangan industri properti nasional secara umum dengan pemerintah. Diketahui, berdasarkan data PPDPP, dari total 11.568 pengembang rumah subsidi di seluruh Indonesia, sekitar 5.014 pengembang di antaranya merupakan pengembang anggota REI.

Jadi, Soelaeman amat optimistis dengan perkembangan industri properti pada 2019. “Tahun ini beberapa pengembang optimistis supaya industri properti ini bisa meningkat lagi,” ujarnya.

 Baca Juga: Harga Rp200 Jutaan, REI Bangun 200 Ribu Rumah untuk Generasi Milenial

Apalagi, lanjut dia, 2019 merupakan titik balik industri properti untuk kembali naik. Karena sejak 2014, industri ini terus mengalami perlambatan. Hal tersebut ditandai dengan mulai banyaknya para pengembang yang berminat untuk melakukan pembangunan pada 2019 ini.

Bahkan dari hasil laporannya, beberapa pengembang telah menarik kredit pinjaman pada akhir 2018 untuk melakukan pembangunan pada 2019. REI telah membangun sebanyak 394.68 unit rumah rakyat di seluruh Indonesia.

Capaian tersebut terdiri atas rumah bersubsidi untuk MBR sebanyak 214.686 unit, ada rumah komersial bawah dengan kisaran harga Rp200 juta hingga Rp300 juta sebanyak 180.000 unit. Realisasi pembangunan rumah REI ini meningkat dibandingkan capaian pada 2017 sebanyak 376.290 unit.

Dia mengungkapkan, jumlah tersebut belum termasuk rumah-rumah komersial di segmen menengah atas di Jabodetabek dan kota-kota besar lainnya. Menurut Soelaeman, memang pendataan rumahrumah komersial (nonsubsidi) terutama di daerah memang mengalami kendala karena pengembang tidak memberikan laporan pembangunannya.

Namun, kata dia, dari data tercatat daerah Jawa Barat dan Jawa Timur menjadi dua daerah dengan pembangunan rumah subsidi terbanyak. Adapun masing-masing pembangunan rumah subsidi di Jawa Barat dan Jawa Timur adalah 31.858 unit dan 29.653 unit.

Daerah selanjutnya adalah Sumatera Selatan, Banten, Sumatera Utara, dan Nusa Tenggara Barat. Lalu ada juga Riau, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, hingga Sulawesi Selatan. “Jadi 10 daerah ini yang paling banyak memproduksi rumah-rumah MBR,” ujar Soelaeman.

Pengamat Properti Panangian Simanungkalit menyambut baik target dan optimisme REI dalam membangun rumah murah. Pengembang, ungkap dia, mesti mencari strategi dalam membangun hunian terjangkau, terutama menggarap pasar milenial yang terus meningkat jumlahnya, di mana umumnya mereka belum berminat memiliki properti.

Gaya hidup milenial saat ini lebih senang menyewa atau tinggal dengan orang tua dibandingkan membeli properti. “Ini menjadi persoalan. Kalau begitu akan ada over supply nantinya sehingga permintaan stagnan dan mengakibatkan gerusan pasar,” ujar Panangian.

Meski begitu, Direktur Eksekutif Pusat Studi Properti Indonesia ini menyarankan supaya pengembang tidak perlu khawatir kehilangan pasar. Pasalnya, jumlah milenial saat ini berkisar 35% dari total masyarakat Indonesia. Berdasarkan catatan BPS, saat ini terdapat sekitar 90 juta milenial yang berumur 20 hingga 34 tahun.

Jumlah tersebut merupakan pasar yang masih besar. Namun, Panangian mengingatkan supaya pengembang beradaptasi dengan gaya milenial atau membuat terobosan yang mengarah pada kebutuhan milenial.

“Jadi pengembang itu harus banting setir, suplai yang harus menyesuaikan permintaan. Pengembang harus melihat bahwa pasarnya sekarang middle ke low bukan middle upper lagi sehingga investor harus membuat milenial yang berpenghasilan rendah tertarik membeli properti,” ujarnya. (Rendra Hanggara)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini