nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Jelang Debat Capres, Pengusaha Nantikan Pembahasan BBM dan Impor Pangan

Giri Hartomo, Jurnalis · Rabu 13 Februari 2019 19:26 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 02 13 320 2017556 jelang-debat-capres-pengusaha-nantikan-pembahasan-bbm-dan-impor-pangan-NxHJU3nOXz.jpg Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Dua calon presiden (Capres) yakni Joko Widodo dan Prabowo Subianto akan melangsungkan debat Capres kedua pada 17 Februari mendatang. Tema yang akan diangkat mengenai energi, pangan, Sumber Daya Alam (SDA), Lingkungan Hidup dan Infrastruktur.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani mengatakan, isu tentang Bahan Bakar Minyak (BBM) selalu menarik untuk dinantikan. Apalagi tema debat kedua ini berkaitan juga dengan isu energi.

"Bicara permasalahan energi ini suatu yang penting karena energi pengaruhi semua segi kehidupan kita. Kalau bicara energi bicara BBM," ujarnya saat ditemui di Jakarta, Rabu (13/2/2019).

Baca Juga: Pengusaha Akan Ganti Dolar AS ke Yuan China

Menurut Hariyadi, alasan mengapa isu ini selalu menarik karena hingga saat ini Indonesia masih belum bisa lepas dari apa yang namanya impor. Bahkan menurutnya, dari tahun ke tahun impor BBM semakin besar seiring kebutuhan.

"BBM kondisi net import kalau impor banyak dari waktu ke waktu impor makin besar volumenya kebijakan kedepannya harus ada seperti apa," ucapnya.

Menurut Hariyadi, subsidi BBM bukan solusi yang baik untuk mewujudkan kemandirian energi. Sebab, jika terus disubsidi pemerintah, masyarakat tidak akan peduli jika energi ini mahal dan tidak akan pernah peduli jika jlah stok energi dunia terus menipis.

"Kalau seperti ini, subsidi terus nanti enggak akan membuat masyarakat kita sadar bahwa energi mahal. Kalau subsidi enggak sadar karena murah harus disesuaikan harganya," jelasnya.

Baca Juga: Pengusaha Setuju Swasta Jual Avtur Saingi Pertamina

Isu berikutnya yang paling dinantikan adalah masalah pangan. Menurutnya, permasalahan pangan ini menjadi hal yang harus diselesaikan karena ada beberapa komoditas yang masih impor.

"Lalu kedua pangan. Yang penting itu ketersediaan pangan. Intinya kebijakan pangan harus dilihat seluruhnya," ucapnya.

Hariyadi juga meminta kepada pemerintah untuk memperbaiki data pangan agar tidak ada kebingungan. Karena ada beberapa kasus impor yang disebabkan oleh tidak jelasnya data seperti impor garam, beras hingga jagung.

"Data-data yang ada ini harus diperbaiki dengan baik karena sektor industri berkali-kali masalah jagung dipakai untuk industri makanan," jelasnya.

(fbn)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini