nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Bahaya Jika Satu Negara Anti Impor

Giri Hartomo, Jurnalis · Kamis 14 Februari 2019 15:21 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 02 14 320 2017930 bahaya-jika-satu-negara-anti-impor-wUzMqAwkzq.jpg Ilustrasi Perdagangan di Pelabuhan (Foto: Okezone)

JAKARTA - Pengamat Pangan dan Pertanian Institute Pertanian Bogor (IPB) Bayu Krisnamurthi ikut berkomentar terkait isu impor yang akan dibahas jelang debat calon presiden (capres) pada 17 Februari 2019. Debat kedua ini menghadirkan isu terkait pangan.

Menurut Bayu, dalam debat nanti masing-masing capres tidak boleh anti dengan yang namanya impor. Sebab, impor merupakan sesuatu yang tidak bisa dihindarkan dalam perdagangan dunia.

"Saya kira impor tidak bisa dihindari di sampingnya kita ingin ekspor, kalau kita mau ekspor berarti ada negara lain yang impor. Artinya kita tidak boleh anti impor," ujarnya saat ditemui di menara Kadin, Jakarta, Kamis (13/2/2019).

Baca Juga: Ombudsman: Tahun Politik Perhatian Administrasi Impor Menjadi Lengah

Menurut Bayu, di tengah kemajuan zaman dan pasar perdagangan bebas ini tidak ada lagi yang namanya satu negara anti terhadap impor. Pasalnya, jika sekali saja ada larangan impor maka bisa jadi negara lainnya akan melancarkan aksi balasannya kepada Indonesia yang bisa memicu perang dagang.

Sebagai salah satu contohnya adalah pelarangan Amerika Serikat terhadap produk baja asal China. Hal tersebut akhirnya berujung pada perang dagang, sebab China juga melancarkan balasannya dengan melarang produk Amerika Serikat masuk ke China.

"Kita tidak lagi di zaman yang menjadi impor fobia, takut sama impor. Dan saya malah khawatir kalau ada yang terlalu bersemangat menjanjikan anti impor. Artinya itu tidak realistis," ucapnya.

Baca Juga: Sri Mulyani Sebut Impor Minyak Pertamina Tumbuh 13,5%

Menurut Bayu, yang terpenting bagi sektor pangan adalah bagaimana pemerintah bisa memberikan jaminan kepada masyarakat luas dan juga para petani. Khusus untuk masyrakat luas, harus bisa memastikan jika stok pangan terjaga sehingga tidak ada yang namanya kenaikan harga yang bisa berpengaruh terhadap pada angka inflasi.

"Ini situasi menjadi perhatian, kita lihat konteks ketahanan pangan lebih dipentingkan keterjangkauan dan ketersediaan. Kita juga harus perhatikan hadapi masalah gizi terkait konsumsi pangan kita," katanya.

Sementara itu, dari sisi petani, pemerintah juga harus bisa memastikan jika kesejahteraan bisa terjamin. Menurutnya penetapan HET bisa menjadi solusi agar harga jual di tingkat petani bisa tetap terjaga.

"Yang jadi masalah adalah siapa yang jadi perhatian kita, kesejahteraan petani. Nah kalau impor impor banyak kesejahteraan petani yang kena. Bagaimana kita bisa tetap impor penuhi impor tapi tidak menunggu kesejahteraan petani," ujarnya.

(fbn)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini