Sebelumnya pada awal Oktober lalu, nilai pasar perusahaan yang didirikan Steve Jobs itu mencapai rekor tertinggi, yakni USD1.120 miliar (sekitar Rp16.240 triliun). Namun pada Kamis (4/1) nilai pasar Apple turun menjadi USD674,75 miliar.
Kendati turun signifikan, nilai pasar Apple masih dua kali lebih besar dibandingkan nilai pasar perusahaan yang sudah berdiri lebih lama seperti Wells Fargo. Kapitalisasi pasar Apple juga tiga kali lebih besar dibanding kapitalisasi McDonalds dan lima kali lebih besar ketimbang kapitalisasi Costco.
Revisi perkiraan laba Apple diakui oleh Chief Executive Apple Tim Cook sebagai akibat dari melambatnya penjualan iPhone di China yang perekonomiannya terdampak perang dagang dengan AS. Pernyataan Cook itu menyebabkan saham Apple jatuh hanya dalam hitungan jam.
Para pemasok dilanda kecemasan karena menganggap produsen iPhone itu sedang dilanda masalah serius di pasar global. Pendapatan Apple juga jatuh pada kuartal keempat 2018. Hal ini menunjukkan perkembangan ekonomi China memberikan dampak yang sangat tajam dan besar terhadap perusahaan AS.
“Meski kami mengantisipasi beberapa tantangan di pasar utama yang sedang berkembang, kami tidak sadar dengan guncangan deselerasi ekonomi di China,” ujar Cook dalam surat kepada investor seperti dikutip Reuters.
Apple saat ini berada dalam posisi sulit di China yang menjadi pasar penjualan utamanya dan tempat produksi teraktif. Pasar China berkontribusi sekitar 15% dari total penjualan Apple di seluruh dunia.
Sejak Chief Financial Officer Huawei Technologies Co Ltd Meng Wanzhou ditangkap di Kanada pada akhir tahun lalu atas permintaan AS, sentimen negatif muncul dari konsumen China. Mereka mulai menjauh dari produk Apple.
Bahkan, sebelum itu, Apple secara bertahap mengalami penurunan jumlah penjualan mengingat produk Huawei lebih diminati di China. Cook menegaskan kepada CNBC bahwa produk Apple tidak didiskriminasi oleh Pemerintah China dan mendapat ruang kebebasan yang sama dengan para pesaingnya.
Namun masyarakat China tidak memiliki keinginan yang tinggi untuk membeli iPhone karena dianggap terlalu identik dengan AS yang terkenal agresif. “Ketegangan hubungan dagang antara China dan AS membuat kami semakin tergencet,” kata Cook.
Menurut para ahli, harga produk Apple pun tiga kali lebih mahal daripada produk lain. “Saya pikir Apple perlu melakukan penyesuaian harga,” ujar Kiranjeet Kaur dari firma riset IDC. Pasar smartphone di China mengalami penurunan tajam.
Selain Apple, pesaingnya dari Korea Selatan, Samsung Electronics Co Ltd, juga mengalami hal yang sama di China. Pertumbuhan performa penjualan kedua raja smartphone itu kalah jauh dari perusahaan lokal China seperti Huawei, Oppo, dan Lenovo.
Samsung menyatakan pada Desember tahun lalu akan menutup operasi satu pabrik telepon genggam mereka di Tianjin, China, setelah pangsa pasarnya jatuh menjadi 1% pada kuartal pertama 2018 dari 15% pada pertengahan 2013.
“Keputusan sulit ini kami keluarkan untuk mengefisienkan fasilitas produksi,” ungkap pernyataan resmi Samsung. Dalam suratnya kepada investor, Apple menurunkan perkiraan penjualan menjadi USD84 miliar pada kuartal pertama tahun ini dari sebelumnya USD89 miliar-93 miliar.