nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Usai Freeport, Inalum Diminta Caplok Saham Vale Indonesia

Giri Hartomo, Jurnalis · Kamis 28 Februari 2019 20:30 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 02 28 320 2024188 usai-freeport-inalum-diminta-caplok-saham-vale-indonesia-3hM4XCiUA7.jpg Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menyatakan minatnya untuk mencaplok 20% saham PT Vale Indonesia Tbk. Hal tersebut disampaikan oleh Deputi Bidang Usaha Pertambangan, Industri Strategis dan Media Kementerian BUMN Fajar Hari Sampurno.

Menurut Fajar, pihaknya telah memberikan arahan kepada perusahaan tambang plat merah untuk membeli saham Vale. Perusahaan yang dimaksud adalah PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum).

Penugasan ini sama halnya dengan divestasi saham PT Freeport Indonesia. Hanya saja hingga saat ini belum ada penugasan bagi Holding Industri Pertambangan tersebut.

“Kepada Inalum kita meminta untuk mempersiapkan, mengkaji kemungkinan-kemungkinan untuk itu,” ujarnya saat ditemui di JCC Senayan, Jakarta, Kamis (28/1/2019).

Baca Juga: Inalum Bentuk Lembaga Riset Kembangkan Hilirisasi Pertambangan

Fajar menjelaskan, jika nantinya penugasan telah diberikan kepada Inalum dirinya meyakini tidak akan memberatkan perseroan. Meskipun sebelumnya, perseroan baru rampung melakukan divestasi saham PT Freeport.

Apalagi, penugasan ini sejalan dengan pembentukab holding tambang ini. Di mana amanat Holding sendiri adalah mengakuisisi cadangan-cadangan tambang.

"Engga (menjadi beban) dong. Itungannya gini, membeli tapi mendapatkan apa. Itu itungannya. Holding itu salah satu amanahnya adalah mengakuisi cadangan-cadangan itu," jelasnya.

Baca Juga: Ternyata Aluminium Lebih Mahal dari Emas, Simak Faktanya

Namun proses divestasi belum bisa terealisasi sebab masih menunggu surat rekomendasi dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

“(Divestasi Vale Belum) Ada dari ESDM. Kan suratnya ke ESDM. Prosesnya seperti apa kalau ESDM sudah kasih persetujuan untuk divestasi,” kata Fajar.

Sebagai informasi, pada Maret 2016, perusahaan konsorsium pertambangan yang dipimpin oleh EMR Capital, spesialis dana ekuitas pertambangan swasta asal Australia, resmi menjadi pemegang saham utama Agincourt Resources.

Komposisi kepemilkan saham Agincourt dikuasai mayoritas oleh EMR Capital 61,4%, Farallon Capital 20,6%, Martua Sitorus 11% serta Robert Hartono & Michael Bambang Hartono 7%. Sementara Newwont dibeli oleh PT Medco Energi Internasional Tbk.

(fbn)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini