Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Menteri ESDM Sindir PTBA Hilirisasi Batu Bara Setelah 100 Tahun

Menteri ESDM Sindir PTBA Hilirisasi Batu Bara Setelah 100 Tahun
Foto: Menteri ESDM Ignasius Jonan (Okezone)
A
A
A

TANJUNG ENIM - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Ignasius Jonan menyindir jajaran direksi PT Bukit Asam (PTBA) jika hanya mampu menggali batu bara untuk dijual tanpa adanya upaya melahirkan produk turunan atau hilirisasi.

"Jika cuma gali, tidak perlu ada Arviyan (Dirut PTBA) yang pintar, cukup anak buah saya saja," kata Ignasius dalam sambutannya pada acara Pencanangan Hilirisasi Batubara di Kawasan Ekonomi Khusus PTBA BACBSEZ"Tanjung Enim, Sumatera Selatan, seperti dikutip Antaranews, Minggu (3/3/2019).

PT Bukit Asam baru memutuskan hilirisasi setelah 100 tahun beroperasi menggali batu bara di kawasan Tanjung Enim.

 Baca Juga: Presiden Jokowi: Bukan Zaman Lagi Batu Bara Dijual Mentah

Pada acara yang juga dihadiri Menteri BUMN Rini Soemarno dan Menteri Perindustrian Airlangga Hartanto itu Ignasius mengakui bahwa tidak banyak kegiatan pertambangan di Indonesia yang memiliki semangat untuk hilirisasi.

Menurutnya, kondisi ini disebabkan PTBA terlalu khawatir untuk menjadi pelopor. "Jika banyak khawatirnya maka tidak akan jadi," kata dia.

Dengan diluncurkannya pencanangan hilirisasi batubara maka menjadi tonggak sejarah baru hilirisasi batubara di Indonesia. PT Bukit Asam beserta dua BUMN lainnya PT Pertamina dan PT Pupuk Sriwijaya beserta perusahaan swasta Chandra ASN sepakat melakukan hilirisasi batubara.

Empat pabrik direncanakan di kawasan seluas 300 hektare Tanjung Enim dengan target selesai November 2022. Pertama pabrik gasifikasi batubara yang mengubah batubara kalori rendah menjadi syngas.

 Baca Juga: Bukit Asam-Pertamina Segera Bangun Pabrik Hilirisasi Batu Bara

Tiga pabrik lainnya yakni pabrik hilirisasi produk batubara, yaitu pabrik pengolahan syngas menjadi dimethyl ether (dme) untuk menghasilkan elpiji bekerja sama dengan PT Pertamina.

Selanjutnya, pabrik pengolahan syngas menjadi urea untuk menghasilkan pupuk berkerja sama dengan PT Pupuk Sriwijaya, dan pabrik pengolahan syngas menjadi polypropylene sebagai bahan baku plastik bekerja sama dengan perusahaan swasta Chandra ASN.

Dia berharap dengan lahirnya hilirisasi, terutama produk dme diharapkan dapat mengurangi impor elpiji karena setiap tahun negara mengeluarkan sekitar Rp40 triliun hingga Rp50 triliun untuk mendapatkan 4,5-4,7 juta ton elpiji. Begitupula dengan impor bahan kimia yang tergolong masih tinggi seperti plastik dan bahan plastik mencapai USD94,4 juta pada Januari 2019.

Setidaknya, melalui proyek bersama ini juga bisa dikurangi impor elpiji, setidaknya sekitar 1 juta ton pada tahun pertama dengan cara mencampurkan dme dari produk hilirisasi batubara.

"Ini sangat mungkin karena defosit tambang batubara ini untuk lapisan 1 (B1) ada 4 miliar ton, dan B2 mencapai 6 miliar ton, ini artinya bisa 250 tahun bertahan," kata dia.

(Dani Jumadil Akhir)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement