Pabrikan Rokok Asing Bakal Diuntungkan

Koran SINDO, Jurnalis · Senin 11 Maret 2019 11:05 WIB
https: img.okezone.com content 2019 03 11 320 2028323 pabrikan-rokok-asing-bakal-diuntungkan-mUvfn1xcJa.jpg Rokok (Ilustrasi: Shutterstock)

JAKARTA – Sejumlah anggota Dewan Perwakilan Rakyat menyatakan penggabungan volume produksi Sigaret Kretek Mesin (SKM) dan Sigaret Putih Mesin (SPM) bukan untuk menekan keberadaan pabrikan kecil.

Penggabungan volume justru melindungi pabrikan kecil dari gempuran pabrikan besar asing. Anggota Komisi Keuangan dari Fraksi PDI Perjuangan Indah Kurnia menjelaskan, penggabungan volume produksi SKM dan SPM bertujuan memperbaiki iklim persaingan di industri hasil tembakau yang belum kondusif. Jika penggabungan ini tidak terealisasi, pabrikan besar asing akan terus menikmati tarif cukai murah sehingga pabrikan kecil yang nanti terkena imbasnya. “Perlu diluruskan, penggabungan batasan volume SKM dan SPM bertujuan untuk memastikan kompetisi yang adil antara perusahaan besar asing dan kecil.

Baca Juga: Kebijakan Cukai Rokok Ditunda, Ini Alasannya

Saat ini beberapa perusahaan besar asing masih membayar cukai golongan 2, walaupun secara total pro duk si SKM dan SPM mereka sudah di atas tiga miliar batang,” ujar Indah di Jakarta, akhir pekan lalu. Pabrikan yang memiliki volume produksi SKM dan SPM di atas tiga miliar batang tidak bisa di sebut perusahaan kecil. Jika harga rokok per batang Rp1.000, maka omzet pabrikan tersebut mencapai Rp3 triliun. Maka itu, Indah menegaskan, pihak-pihak yang menolak wacana penggabungan volume produksi SKM dan SPM berarti tidak ingin menciptakan perubahan di industri rokok serta berpihak pada asing.

Dia juga berharap pabrikan kecil terus mendukung wacana ini sehingga sudah saatnya pabrikan besar asing tak lagi membayar tarif cukai murah. “Justru menjadi per tanyaan apabila ada yang tidak setuju dengan penggabungan batasan volume ini,” ujarnya. Anggota Komisi Keuangan DPR Amir Uskara mendukung penggabungan volume produksi SKM dan SPM untuk segera diwujudkan. Politikus dari Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ini tidak ingin pabrikan besar asing terus menerus menikmati cukai murah. Jika tidak ada perubahan, dia khawatir keberadaan pabrikan kecil akan semakin berkurang.

rokok

“Penundaan penggabungan justru akan menyulitkan pabrikan rokok kecil,” kata Amir. Ketua Harian Forum Masyarakat Industri Rokok Seluruh Indonesia (Formasi) Heri Susanto menambahkan, pabrikan rokok kecil selama ini tertekan dengan pabrikan besar asing yang menikmati tarif cukai murah. Pemerintah seharusnya mengatasi persoalan ini dengan segera menggabungkan batasan volume produksi SKM dan SPM.

(Rakhmat Baihaqi)

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini