OSLO - Norwegian Air menyatakan akan meminta kompensasi kepada Boeing setelah menelan kerugian akibat distopnya operasional pesawat 737 MAX 8. Maskapai penerbangan yang berbasis di Oslo, Norwegia itu memiliki 18 unit MAX 8 dari total 163pesawat.
Meski tidak mencapai seperempatnya, Norwegian Air dipastikan kehilangan laba. Uni Eropa telah mendesak seluruh maskapai penerbangan untuk mengandangkan MAX 8, menyusul kecelakaan maut di Ethiopian Airlines yang menewaskan 157 orang.
Norwegian Air awalnya sangat berharap MAX akan menjadi pesawat pilihan pelanggan, baik untuk penerbangan jarak menengah mau pun dekat, dalam beberapa tahun ke depan. Hal itu didasari oleh desain yang lebih nyaman, konsumsi bahan bakar yang lebih irit, dan biaya murah.
Baca Juga: AS Larang Seluruh Penerbangan Pesawat Boeing 737 Max 8 dan 9
“Kami berharap pesawat MAX kami dapat segera kembali mengudara,” ujar Chief Executive Norwegian Air, Bjoern Kjos, dikutip Reuters . “Orang bertanya terkait dampak dari situasi ini terhadap keuangan kami. Semuanya jelas. Kami tidak akan membayar kerugian ini dan akan menyerahkannya kepada Boeing,” imbuhnya.
Pengandangan pesawat MAX 8 dinilai memberikan tekanan kepada maskapai penerbangan. Pasalnya, penghentian operasi itu mengurangi jumlah bisnis dan keuntungan di tengah kompetisi yang kian intens. Saat ini sudah 29 negara yang melakukan temporary grounded kepada Boeing 737 MAX 8.
Norwegian Air juga berencana memangkas biaya setelah mendapatkan dana sekitar USD348 juta dari pemegang saham. “Jika situasi ini dapat diselesaikan dalam dua pekan, dampaknya tidak akan sangat serius terhadap pebisnis Norwegia,” ujar pemerhati Preben Rasch- Olsen dari Carnegie.
“Kerugian saat ini mungkin akan dapat ditutup Boeing. Tapi jika situasinya berlanjut hingga Mei atau Juni maka akan timbul masalah baru,” imbuhnya. Pernyataan Preben bukan tanpa alasan.

Pada Maret, permintaan penerbangan di Norwegia masih terbilang rendah dan baru akan naik memasuki musim. Norwegian Air telah membatalkan beberapa penerbangan, terutama dari Oslo, Stockholm, dan kota Nordik lainnya. Mereka memindahkan penumpang menuju pesawat yang lain.
“Kami masih mampu mengakomodasi penerbangan antar-Eropa, tapi penerbangan ke luar Eropa masih sangat sulit,” kata Lasse. Di bagian lain, Boeing mengakui telah mengembangkan pembaruan perangkat lu nak, termasuk kendali penerbangan Maneuvering Charac te ristics Augmentation System, layar pilot, manual operasi, dan pelatihan kru.
Kecelakaan Lion Air di Laut Jawa akhir 2018 juga diyakini akibat kegagalan sistem otomatisasi anti-stalling. Pada dasarnya, dalam sistem sebelumnya, sensor pesawat salah membaca kondisi pesawat saat lepas landas sehingga mengeksekusi aksi remedial dan membuat pesawat menghadap ke bawah.