Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Operasional Pesawat Boeing 737 Max 8 Distop, Norwegian Air Minta Ganti Rugi

Koran SINDO , Jurnalis-Kamis, 14 Maret 2019 |10:48 WIB
Operasional Pesawat Boeing 737 Max 8 Distop, Norwegian Air Minta Ganti Rugi
Pesawat Boeing (Foto: Reuters)
A
A
A

Pilot Peter Garrison mengatakan bahwa pilot terpaksa harus mengeluarkan seluruh energinya untuk meluruskan hidung pesawat. “Namun, hal itu tidak mudah, apalagi semuanya terjadi dalam situasi darurat,” ujar Garrison.

“Manusia biasanya kehilangan kemampuan dan alternatif untuk berpikir cepat ketika berada di bawah ancaman kematian. Meskipun pilot sebenarnya hanya perlu mengubah autopilot, semuanya berada di luar kendali,” Menurut Garrison, kesalahan tidak berada di dalam sis tem teknologi sebab pada za man sekarang hampir semua pesawat menggabungkan sistem otomatisasi dan manual.

Hanya, Boeing selaku pembuat 737 MAX 8 dinilai gagal memberikan pelatihan yang memadai, terutama saat sistem menjalani error. Para ahli juga khawatir kondisi serupa juga terjadi selama ke celakaan di Etiopia.

“Kami bekerja sama dengan Badan Penerbangan Federal (FAA) dalam pengembangan, perencanaan, dan perizinan perangkat lunak yang akan di pasang di 737 MAX dalam beberapa pekan ke depan sesuai saran yang diterima,” ungkap Boeing. Dalam suratnya kepada para karyawan, Chief Executive Boeing Dennis Muilenburg menyatakan optimistis dengan sistem keamanan dan keselamatan MAX.

Baca Juga: Lion Air Tunda Pemesanan Pesawat Boeing 737 MAX 8

Politikus Amerika Serikat (AS) mendesak FAA untuk mengambil langkah serupa seperti negara lain di dunia untuk mengandangkan MAX 8. Namun, FAA bergeming. Mereka menyatakan sistem keamanan dan keselamatan MAX 8 baik dan layak digunakan.

Jika terdapat bug, mereka berjanji akan bertindak cepat. “FAA perlu mendaratkan pesawat itu dari udara AS,” ujar Senator Demokrat Elizabeth Warren. Senada dengan Warren, mantan Menteri Transportasi AS Ray LaHood yang mengandangkan 787 Dream li ner pada 2013 akibat kebakaran baterai lithium-ion, mengatakan bahwa keselamatan masyarakat perlu menjadi prioritas.

Di Jakarta, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub) memastikan penetapan larangan terbang bagi pesawat Boeing 737 MAX 8 di Indonesia semata-mata untuk mencegah kejadian yang tidak di inginkan. Larangan tersebut telah diberlakukan mulai 12 Maret hingga sepekan ke depan.

“Ini (larangan terbang) bukan bentuk sanksi, tetapi pencegahan,” ujar Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub Polana B Pramesti. Menurut Polana, temporary grounded tersebut diterapkan guna menindaklanjuti terjadinya kecelakaan pesawat Ethiopian Airlines ET302 yang terjadi pada Minggu (10/19).

boeing

Di Indonesia, saat ini ada 11 unit Boeing 737 MAX 8 yang di-grounded. Sepuluh unit milik maskapai Lion Air dan satu unit lainnya milik Garuda Indonesia. Langkah-langkah yang sudah dilakukan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara sejak diberlakukannya larangan terbang sementara tanggal 12 Maret 2019, adalah dengan melakukan inspeksi secara detail terhadap pesawat Boeing 737-8 MAX milik Garuda Indonesia, dan saat ini masih berlanjut inspeksi terhadap Boeing 737MAX -8 yang dioperasikan oleh Lion Air.

Sementara itu, Managing Director Lion Air Group Daniel Putut Kuncoro mengungkapkan, secara operasional larangan terbang sementara tersebut tidak akan mengganggu pelayanan maskapai singa merah itu.

Imbas dari kecelakaan tersebut, ujar Daniel, pihaknya akan melakukan pembicaraan lebih lanjut dan mengkaji ulang strategi penggunaan MAX 8 dikaji kembali. “Kami tunda dulu sampai ada hasil investigasi KNKT dan koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk diskusi dengan pihak Boeing,” pungkasnya.

(Ichsan Amin/Muh Shamil)

(Kurniasih Miftakhul Jannah)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement