nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Ekspor Rokok dan Cerutu Tembus Rp13 Triliun pada 2018

Koran SINDO, Jurnalis · Minggu 17 Maret 2019 14:17 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 03 17 320 2031084 ekspor-rokok-dan-cerutu-tembus-rp13-triliun-pada-2018-bsa2znynvj.jpg Foto: Reuters

JAKARTA – Nilai ekspor komoditas rokok dan cerutu sepanjang 2018 mencapai USD931,6 juta atau setara Rp13 triliun (kurs Rp14.000 per USD). Nilai ini meningkat 2,98% dibanding 2017 sebesar USD904,7 juta.

“Industri rokok juga dapat dikatakan sebagai sektor kearifan lokal yang me miliki daya saing global,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto melalui keterangan tertulisnya.

Airlangga menyampaikan hal itu saat melakukan kunjungan kerja di Mitra Produksi Sigaret (MPS) dan Sampoerna Retail Community (SRC) di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Selama ini, menurut Menperin, industri rokok di dalam negeri telah meningkatkan nilai tambah dari bahan baku lokal berupa hasil per kebunan, seperti tembakau dan cengkeh.

 Baca Juga: Pabrikan Rokok Asing Bakal Diuntungkan

Sektor padat karya dan berorientasi ekspor ini pun menyumbangkan pendapatan negara cukup signifikan melalui cukai. Sepanjang 2018, penerimaan cukai rokok menembus hingga Rp153 triliun atau lebih tinggi dibanding perolehan pada 2017 sebesar Rp147 triliun.

Penerimaan cukai rokok pada tahun lalu, berkontribusi mencapai 95,8% terhadap cukai nasional. Untuk itu, Kementerian Per industrian memberikan apresiasi kepada paguyuban MPS sebagai wadah yang menaungi 38 perusahaan produsen sigaret keretek tangan (SKT) dan ber mitra dengan PT HM Sampoerna.

Mereka yang berlokasi di Jawa Timur dan Jawa Tengah ini mampu memproduksi 15 miliar batang per tahun de ngan mempekerjakan karyawan lebih dari 40.000 orang. Keberpihakan pemerintah saat ini terhadap industri SKT sangat jelas sehingga peker jaan (linting rokok keretek) itu ada terus dan berkelanjutan.

“Kita pun lihat mereka masih bertahan di tengah era industri 4.0. Karena di Indonesia, penerapan teknologi industri 4.0 berjalan secara paralel dan harmonis dengan industri yang menggunakan teknologi sebelumnya,” tutur Airlangga.

 Baca Juga: Sri Mulyani Minta Pelaku Industri Rokok Tak Hindari Pembayaran Cukai

Selain itu, program kemitraan antara PT HM Sampoerna dan SRC, sebagai wadah usaha kecil menengah (UKM) ritel yang telah dibentuk di 34 provinsi meliputi 408 kabupaten/kota dan melibatkan lebih dari 60.000 mitra dagang, ini juga merupakan contoh program pemberdayaan UKM khususnya peritel tradisional di tingkat nasional.

“Program ini menunjukkan kepedulian Sampoerna kepada UKM untuk dapat berkembang bersama-sama melalui peningkatan kapasitas dan menciptakan ekosistem komersial yang inklusif, yang pada akhirnya mewujudkan kemandirian perekonomian, baik di tingkat daerah maupun nasional,” ujarnya. (Hatim Varabi/Ant)

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini