Depok Punya Terminal Modern Tahun Depan

Koran SINDO, Jurnalis · Kamis 21 Maret 2019 11:29 WIB
https: img.okezone.com content 2019 03 21 320 2032986 depok-punya-terminal-modern-tahun-depan-gbIAuObEnC.jpg Depok (Foto: Ist)

DEPOK – Kota Depok bakal memiliki terminal terpadu modern di kawasan Margonda. Jika tak ada aral melintang, masyarakat dapat memanfaatkan Terminal Metro Stater Depok pada 2020. Saat ini pembangunan terminal masuk tahap pengeboran tiang pancang. Terdapat 11 titik pengeboran yang akan di jadikan landasan pemasangan tiang pancang.

Total 2.000-an tiang untuk menyangga bangunan 28 lantai itu. Satu titik bor memiliki kedalaman sekitar 48 meter. “Selama tiga pekan akan dilakukan pemasangan tiang, kemudian ditumpuk balok beton. Kalau kedudukan stabil, artinya titik tersebut aman. Kalau miring berarti perlu di tambah ke dalamannya,” ujar Direktur PT Andika Investama Sumarsono Hadi di Depok kemarin. Untuk menguji beban ini diperlukan kehati-hatian sebab pemasangan tiang menjadi bagian penting dalam pembangunan.

“Tahap ini perlu diperhatikan karena berkaitan dengan kekuatan bangunan,” ucapnya. Pembangunan Terminal Metro Stater Depok sebenarnya sudah dimulai sejak Agustus 2018, namun sempat tertunda karena masih ada aktivitas lain di lokasi tersebut.

Baca Juga: Presiden Jokowi: Integrasi Transportasi Jabodetabek Tak Bisa Ditunda Lagi

Pelaksana proyek tidak bisa melakukan kegiatan jika masih belum dinyatakan steril area yang akan di bangun. “Pembangunan dilakukan dalam tiga tahap. Tahap persiapan sudah di lakukan. Perizinan, koordinasi dengan operator terkait juga lingkungan telah dilakukan kemudian pemagaran beton,” ucapnya.

Dalam membangun terminal modern terpadu ini pihaknya sangat memperhatikan kekuatan infrastruktur di bawah tanah. Dengan kekuatan infrastruktur bawah yang kuat maka kemampuan menahan bangunan menjadi maksimal.

“Untuk pembangunan bagian atas lebih cepat dibanding bagian bawah. Yang kami kerjakan sekarang pembangunan infrastruktur bawahnya,” kata Sumarsono. Pembangunan infrastruktur bawah tanah bukanlah tanpa kendala karena sangat tergantung kontur dan kondisi tanah yang berbeda di setiap titiknya.

terminal

Saat proses pengeboran bisa keluar air dan lumpur. Dia berharap proses pembangunan berjalan lancar dan sesuai target sehingga pada Oktober 2020 terminal dapat digunakan. “Nanti ada ruang tunggu, kantor, dan koridor -koridor. Detailnya ada di Dinas Perhubungan.

Kalau soal koridor-koridor, kami hanya menyediakan,” ujarnya. Setelah terminal rampung selanjutnya pembangunan area komersial. Selain itu, ada juga kawasan hunian pada pembangunan Terminal Metro Stater Depok senilai Rp1,3 triliun.

Hunian bakal di bangun setelah terminal dan area komersial rampung. “Target keseluruhan untuk hunian sekitar 3-4 tahun. Kami tidak boleh membangun apa pun sebelum terminal selesai,” ucapnya. Dia juga memfokuskan sarana prasarana yang menunjang teknologi modern dalam pembangunan terminal sehingga masyarakat akan terbantu dengan kecanggihan teknologi yang diterapkan.

Terminal Metro Stater Depok akan berbasis Transit Oriented Development (TOD) yang mengintegrasikan hubungan antar moda dengan berbagai jenis transportasi. “Kementerian Perhubungan sudah memiliki Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) yang menyinkronkan seluruh moda transportasi sehingga masyarakat akan dimudahkan ketika berganti moda baik pelayanan maupun inter koneksinya,” ungkap Sumarsono.

Kepala Dinas Perhubungan Kota Depok Dadang Wihana mengatakan, Terminal Metro Stater Depok merupakan bagian dari upaya Pemkot Depok memenuhi kebutuhan transportasi masyarakatnya mengingat perkembangan di Depok kian pesat.

“Tuntutan layanan masyarakat terhadap layanan terminal sangat tinggi sehingga Pemkot Depok merasa perlu merespons hal tersebut dengan membangun sarana dan prasarana yang memadai,” ujar Dadang. Nanti akan ada 10 lajur yang dibuat untuk angkutan umum sesuai jurusan masing-masing.

Pergerakan kendaraan yang keluar masuk akan diatur sehingga tidak ada kendaraan menumpuk dalam jalur. Kemudian ada juga ruang tunggu bagi warga yang dibuat senyaman mungkin. “Ada juga jalur khusus bus bandara dengan ruang tunggu yang representatif.

Baca Juga: Jembatan Udara Diklaim Sukses Turunkan Disparitas Harga

Kalau memang memungkinkan nanti dibuat sistem city check in. Intinya kita ingin mengembangkan sistem juga membangun infrastruktur fisiknya,” katanya. Jika konsep ini berjalan lancar diperkirakan volume kendaraan di jalur protokol Depok dan jalur lainnya berkurang.

Di targetkan pengurangan volume kendaraan setelah pengoperasian terminal modern bisa tereduksi hingga 50%. “Kami ingin warga Depok menggunakan angkutan umum yang nyaman. Perlahan kami terus berupaya melakukan perbaikan dan persiapan ke arah sana,” ucapnya.

Ketua DPRD Depok Hendrik Tangke Allo mempertanyakan kerja sama antara Pemkot Depok dan pihak pengembang Terminal Metro Stater Depok terkait aset pemerintah daerah yang di kerjasamakan. “Dasar kerjasamanya apakah sudah sesuai aturan perundang-undangan atau tidak.

Kemudian bagaimana pendampingan hukum dari sudut pandang yuridis sehingga proses administrasi betul-betul clean dan tidak ada aturan yang dilanggar,” ujarnya. Selanjutnya bagaimana koordinasi dengan DPRD lantaran Dewan tidak mengetahui adendum kontrak yang sudah disepakati. Dia menilai tidak adanya tembusan kepada DPRD sebagai hal yang cacat hukum. “Ini menyangkut aset daerah loh,” ucapnya.

(R Ratna Purnama)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini