nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Ekonomi 2018 Tumbuh 5,17%, RI Lolos dari Ketidakramahan Dunia

Giri Hartomo, Jurnalis · Rabu 27 Maret 2019 12:46 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 03 27 20 2035569 ekonomi-2018-tumbuh-5-17-ri-lolos-dari-ketidakramahan-dunia-bG2nDjjW4E.jpg Ilustrasi: Foto Shutterstock

JAKARTA - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyebut kinerja ekonomi pada 2018 cukup baik. Meskipun memang pertumbuhannya sedikit melambat karena secara tahunan pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya tumbuh 5,17%.

"Indonesia tahun lalu bisa melewati dengan capaian cukup baik stabilitas terjaga pertumbuhan ekonomi membaik," ujarnya dalam acara peluncuran Buku Laporan Perekonomian Indonesia 2018 di Komplek Bank Indonesia, Jakarta, Rabu (27/3/2019)

Pada tahun 2018, stabilitas keuangan Indonesia cukup terjaga. Selain itu, inflasi pada tahun lalu pun terjaga pada level 3%.

 Baca Juga: Curhat Gubernur BI: Sejak 2018 Ekonomi Dunia Tidak Ramah

Di sisi lain, nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat juga cukup stabil meskipun memang sempat terjadi gejolak. Seperti diketahui, pada 2018 lalu nilai tukar Rupiah sempat berada di angka Rp15.000 per USD.

Namun dengan beberapa bauran kebijakan antara pemerintah dan BI rupiahkan bisa kembali menguat di kisaran Rp14.100 per USD hingga Rp14.200 per USD.

"Stabilitas kita pilihkan, inflasi terkendali, nilai tukar dapat dikendalikan, stabil bahkan menguat di sekitar Rp14.100-Rp14.200 per USD. Stabilitas ekonomi terjaga mengendalikan defisit transaksi berjalan, stabilitas ketahanan pangan," katanya.

Memang menurut Perry, masih ada pekerjaan rumah yang harus dibenahi oleh pemerintah. Salah satunya adalah defisit neraca perdagangan yang masih menjadi momok bagi pemerintah.

 Baca Juga: 7 Strategi BI Hadapi Gejolak Ekonomi Global 2019

Pada 2018 lalu, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai impor Indonesia 2018 tumbuh 20,15% menjadi USD188,63 miliar sementara nilai eskpor hanya tumbuh 6,65% menjadi USD180,06 miliar. Alhasil, sepanjang tahun lalu defisit perdagangan USD8,57 miliar.

"Meski ekspor masih sulit didorong tapi sumber pertumbuhan dalam negeri konsumsi dan investasi bisa ditingkatkan," katanya.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini