Kinerja perseroan dapat meningkat di masa mendatang didorong sejumlah sentimen positif. Pada akhir tahun lalu, KRAS telah menandatangani kesepakatan dengan sejumlah BUMN karya tentang penggunaan baja dalam negeri untuk proyek-proyek yang dijalankan oleh pemerintah. Pada proyek pembangunan jalan tol layang Jakarta-Cikampek atau Japek Ii Elevated Toll Road, suplai baja perseroan per Desember 2018 telah mencapai 151.090 ton."Kesepakatan itu diharapkan mampu meningkatkan kinerja perseroan ke depan,” jelasnya dilansir dari Harian Neraca, Kamis (4/4/2019).
Sentimen positif lainnya yakni perpanjangan pengenaan bea masuk anti dumping (BMAD) terhadap produk Hot Rolled Coil (HRC) yang diimpor dari Republik Rakyat Tiongkok (RRT), India, Rusia, Kazakhstan, Belarusia, Taiwan, dan Thailand, yang tertuang dalam PMK No.25/PMK.010/2019 yang berlaku 2 April 2019 hingga 5 tahun ke depan.

Pada 2019, KRAS berencana menambah porsi penjualan ekspor sebesar 650.000 ton HRC/P ke Malaysia, India, dan negara lainnya. Pada Maret 2019, sebanyak 12.000 ton HRC/P telah diekspor ke Malaysia, seiring dengan kebijakan otoritas setempat yang meyatakan dicabutnya aturan anti dumping bagi Indonesia karena ketiadaan produsen HRC dalam negeri Malaysia.
Revisi ketentuan impor besi dan baja juga semakin mendorong geliat pasar baja dalam negeri dan mengendalikan masuknya baja impor."Dari sisi internal perseroan terus melakukan berbagai upaya perbaikan kinerja untuk menjadikan perseroan sehat dan tumbuh secara berkesinambungan, di antaranya penyelesaian proyek strategis transformasi sales dan marketing, program efisiensi biaya melalui pola operasi yang optimal, optimalisasi aset, dan program restrukturisasi keuangan," katanya.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.