Bos SKK Migas Buka-bukaan Nasib Blok Masela

Giri Hartomo, Jurnalis · Kamis 04 April 2019 15:51 WIB
https: img.okezone.com content 2019 04 04 320 2039029 bos-skk-migas-buka-bukaan-nasib-blok-masela-vsw3tAneBv.jpg Ilustrasi (Foto: Reuters)

JAKARTA - Pengembangan Blok Masela masih belum juga menemui titik terang. Hal ini sangat disayangkan sebab blok ini digadang-gadang akan memberikan dampak ekonomis yang besar.

Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Dwi Soetjipto mengatakan, saat ini pengembangan Blok Masela masih dalam tahap negosiasi antara pemerintah dengan pihak kontraktor. Negosiasi menyangkut masalah investasi yang akan dikeluarkan untuk mengembangkan Blok Masela.

"Masih lanjutan terus kita maraton, yang nomor satu harus kita selesaikan mengenai nilai investasi, total cost-nya itu," ujarnya saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis (4/4/2019).

Baca Juga: Garap Blok Masela, ESDM Pakai Konsultan dari AS

Mantan Direktur Utama PT Pertamina (Persero) mengakui bahwa memang pembahasan biaya investasi ini cukup panjang. Hal tersebut agar tidak ada ekspektasi berlebih (over ekspektasi) dan over desain dari masing-masing pihak.

Hal itu pula yang selalu dibahas setiap harinya baik internal maupun dengan pihak kontraktor. Berharap pembahasan ini sendiri bisa segera rampung.

"Mengenai nilai investasi, total costnya itu. Supaya tidak ada yang over ekspektasi over desain masing-masing pihak. Dari SKK juga tidak boleh dalam kalkulasi juga ambil asumsi-asumsi yang apa namanya minimum. Kita harus titik semuanya rasional," katanya.

Baca Juga: Gas Blok Masela 150 MMSCFD Diincar Pembeli

Kendati demikian, Dwi menyebut saat ini pembahasan mengenai berapa nilai investasinya sudah mulai mengerucut. Namun dirinya masih belum bisa menyampaikanya secara detail.

"Karena ini kan kita berdebat dengan sebuah rencana. Padahal realisasinya dilihat pada saat pelaksanaan projects," ucapnya.

Pengerucutan ini masih sebatas perencanaan. Jika dalam perencanaan ada perbedaan gap maka pihaknya masih harus menyampaikan rekomendasi untuk mencari solusi ke depan.

"Kan ini kan cost recovery, kan realisasi akan kita lihat. Ini semua planning, kalau di-planning masih ada gap, maka kita bisa upayakan nanti cari solusi bahwa kita akan lihat dengan realisasi nya nanti. Bisa saja split yang didesain hari ini, insentif yang diberikan hari ini bisa saja, nanti di-review pada saat realisasi nanti, bisa saja begitu," ujarnya.

(fbn)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini