nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Resesi Ekonomi AS, Aliran Modal Asing Deras Masuk RI

Sabtu 06 April 2019 17:52 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 04 06 20 2039946 resesi-ekonomi-as-aliran-modal-asing-deras-masuk-ri-Te7iL7wYa6.jpg Bendera AS (Foto: Reuters)

JAKARTA - Ekonomi Amerika Serikat (AS) diambang resesi akibat adanya anomali imbal hasil (yield) surat utang negara. Apalagi pemerintah AS telah meminta bank sentralnya, The Fed, untuk turunkan suku bunga acuannya (Fed Fund Rate/FFR).

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Pieter Abdullah Redjalam mengatakan, jika ekonomi AS kembali resesi bisa memberikan stimulus pada aliran modal asing untuk kembali ke negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Pasalnya, The Fed menaikkan FFR sejak 2015 dan puncaknya pada 2018, membuat aliran modal asing di negara berkembang beralih ke AS.

"Bila itu terjadi, bisa mendorong The Fed untuk kembali menurunkan suku bunga. Dampaknya bisa positif untuk aliran modal asing ke negara berkembang termasuk Indonesia," ujarnya saat dihubungi, Sabtu (6//4/2019).

Baca Juga: Perang Dagang AS-China, WTO Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Perdagangan Dunia

Bank Indonesia (BI) mencatat, selama 2019 ini sudah ada hampir USD90 triliun aliran modal asing masuk ke Indonesia. Derasnya aliran modal asing ini bisa menyebabkan defisit transaksi berjalan (Current Account Deficit/CAD) tertutupi.

Tak hanya itu, nilai tukar rupiah pun bisa terjaga karena berkurangnya permintaan akan dolar AS. BI mencatat rupiah masih mengalami penguatan sebanyak 0,9% sejak awal tahun 2019 meskipun pada pekan terakhir Februari terdepresiasi 0,5%.

"Derasnya arus modal akan membantu menutup CAD sekaligus menjaga nilai tukar rupiah," kata dia.

Kendati demikian, resesi ekonomi AS juga bisa menyebabkan tingkat ekspor Indonesia melambat akibat menurunnya permintaan global. Hal ini bisa memperdalam defisit neraca perdagangan jika impor tidak dikurangi.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, neraca perdagangan Indonesia periode Februari 2019 mengalami surplus USD330 juta. Namun, meski ekspor merosot, impor mengalami penurunan tajam sehingga surplus neraca perdagangan kembali terjadi.

as

"Resesi perekonomian AS akan semakin menurunkan demand global sehingga sangat sulit berharap ekspor kita akan tumbuh signifikan. Perekonomian kita akan sangat bergantung kepada domestic demand," ucapnya.

Menurut dia selama ini perekonomian Indonesia sudah bergantung pada domestic demand karena kontribusi konsumsi rumah tangga terhadap pertumbuhan ekonomi mencapai 60%. Oleh karenanya, pemerintah diminta untuk mendorong pertumbuhan konsumsi dalam negeri yang bisa menstimulus investasi.

"Di antaranya menurunkan suku bunga, menaikkan gaji ASN, meningkatkan bantuan sosial, menjaga inflasi dan nilai tukar. Investor tidak mau investasi kalau pertumbuhan kita rendah," tuturnya.

(iNews)

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini