Proses pengadaan tanah dijadwalkan dimulai bulan April 2019 dari seksi Simpang Indralaya – Prabumulih. Seksi Simpang Indralaya – Prabumulih direncanakan dapat beroperasi terlebih dahulu pada bulan Februari 2022, sedangkan, keseluruhan konstruksi kedua ruas jalan tol tersebut ditargetkan dapat selesai pada bulan Desember 2022. Jadwal pengoperasian paling lambat 2 bulan setelah selesai pekerjaan konstruksi.
Jalan tol dengan nilai investasi sebesar Rp47,89 Triliun ini memiliki 6 Simpang Susun, yaitu SS Sp. Indralaya, SS Prabumulih, SS Muara Enim, SS Lahat/Merapi, SS Musi Rawas, SS Lubuk Linggau. “Pemerintah Kabupaten dan Kota yang dilintasi Tol Pelembang-Bengkulu mulai menyiapkan potensi ekonomi lokal karena kawasan sekitar simpang susun akan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru,” jelas Danang.
Menurut Danang, kehadiran tol yang menghubungkan Palembang-Bengkulu akan memangkas waktu tempuh Palembang-Muara Enim dari semul 4 jam menjadi 1,5-2 jam. Sementara Palembang-Bengkulu akan dapat ditempuh selama 4 jam.
Sementara itu, Gubernur Sumsel Herman Deru mengatakan keberadaan jalan tol Simpang Indralaya-Muara Enim-Lubuk Linggau akan lebih membuka potensi ekonomi perkebunan, pertanian, pertambangan dan pariwisata Sumsel.
“Pembangunan tol ini adalah impian yang menjadi kenyataan. Hal ini merupakan perhatian Presiden Joko Widodo yang kemudian memerintahkan Menteri PUPR untuk membangun ruas tol ini. Kehadiran tol akan memperlancar konektivitas, karena sebelum truk batubara dilarang melintas di jalan umum, waktu tempuh Palembang-Muara Enim bahkan mencapai 12 jam,” jelas Herman.
(Feby Novalius)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.