JAKARTA – Semakin lama semakin banyak orang yang mulai memilih saham sebagai instrumen investasi. Namun, selama ini kebanyakan mereka yang berinvestasi adalah orang-orang di pusat kota yang memiliki akses ke perusahaan sekuritas, tempat orang bisa membuka rekening efek untuk menjadi investor saham.
Serupa dengan ketika kita membuka rekening tabungan di bank, untuk menjadi investor saham harus membuka rekening di perusahaan efek. Berita baiknya, sejak awal tahun ini, untuk membuka rekening efek dan memiliki rekening dana investor sebagai pelengkap, bisa dilakukan secara digital. Artinya investor yang berada jauh dari pusat kota, atau jauh dari kantor cabang perusahaan efek, bisa menjadi investor dengan menggunakan aplikasi pembukaan rekening efek digital milik perusahaan efek.
Baca Juga: Perempuan dan Investasi di Pasar Modal Indonesia
Nah, dengan makin meluasnya daya jangkau masyarakat untuk menjadi investor saham, semakin menarik pasar saham sebagai pilihan investasi masyarakat. Dalam berinvestasi, pasti akan ada potensi keuntungan dan kerugian. Semakin besar potensi keuntungan, akan semakin besar juga risiko kerugian. Begitupun sebaliknya. Inilah rumus pertama berinvestasi. Jadi, kalau ada pihak yang menawarkan keuntungan besar dalam berinvestasi tapi tidak menyampaikan risikonya, perlu diwaspadai. Semua perusahaan efek yang legal menawarkan investasi, tercatat dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Menabung di bank tidak ada risiko atau memiliki risiko yang kecil, karena menabung bukan berinvestasi. Keuntungan menabung di bank berupa bunga atau bagi hasil, yang nilainya kecil dan sudah ditetapkan. Sementara berinvestasi di saham, potensi keuntungannya bisa mencapai belasan, puluhan, bahkan ratusan persen, tetapi dengan risiko investasi yang bisa menggerus modal.
Keuntungan investasi saham berasal dari kenaikan harga saham dan dividen. Kenaikan harga saham bergerak berdasarkan hukum permintaan dan persediaan. Jika banyak yang ingin membeli saham tersebut, otomatis harga akan naik. Sebaliknya, kalau lebih banyak yang mau menjual atau melepas saham tertentu, akan menyebabkan harga saham turun.
Contoh, seorang investor pada awal tahun membeli saham ABC di Bursa Efek Indonesia (BEI), melalui perantara perusahaan efek tempat ia membuka rekening pada harga Rp500 per lembar saham. Di BEI, berlaku minimum pembelian dan penjualan saham sebesar 1 lot saham. Satu lot saham berisi 100 lembar saham. Artinya kalau harga per lembar saham Rp500, maka ia bisa membeli atau menjual minimal Rp50 ribu (1 lot). Di akhir tahun, harga saham ABC naik menjadi Rp750 per lembar saham. Artinya dia bisa menjual 1 lot saham di akhir tahun seharga Rp75 ribu atau mendapat keuntungan 50%.
Tetapi bisa saja harga suatu saham tidak naik, bahkan mengalami penurunan. Alasan orang banyak menjual saham yang ia miliki yang menyebabkan harga turun disebabkan beberapa faktor, diantaranya, kinerja perusahaan yang sahamnya dicatat di BEI mengalami penurunan. Kinerja yang tidak bagus, misalnya perusahaan sebelumnya mengalami keuntungan, tetapi saat ini mengalami rugi, akan menyebabkan harga sahamnya di BEI turun.