nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Untung Rugi Investasi Saham

Sabtu 27 April 2019 08:44 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 04 25 278 2047963 untung-rugi-investasi-saham-uT0dhcRrej.jpg Indeks Harga Saham Gabungan (Ilustrasi: Shutterstock)

JAKARTA – Semakin lama semakin banyak orang yang mulai memilih saham sebagai instrumen investasi. Namun, selama ini kebanyakan mereka yang berinvestasi adalah orang-orang di pusat kota yang memiliki akses ke perusahaan sekuritas, tempat orang bisa membuka rekening efek untuk menjadi investor saham.

Serupa dengan ketika kita membuka rekening tabungan di bank, untuk menjadi investor saham harus membuka rekening di perusahaan efek. Berita baiknya, sejak awal tahun ini, untuk membuka rekening efek dan memiliki rekening dana investor sebagai pelengkap, bisa dilakukan secara digital. Artinya investor yang berada jauh dari pusat kota, atau jauh dari kantor cabang perusahaan efek, bisa menjadi investor dengan menggunakan aplikasi pembukaan rekening efek digital milik perusahaan efek.

Baca Juga: Perempuan dan Investasi di Pasar Modal Indonesia

Nah, dengan makin meluasnya daya jangkau masyarakat untuk menjadi investor saham, semakin menarik pasar saham sebagai pilihan investasi masyarakat. Dalam berinvestasi, pasti akan ada potensi keuntungan dan kerugian. Semakin besar potensi keuntungan, akan semakin besar juga risiko kerugian. Begitupun sebaliknya. Inilah rumus pertama berinvestasi. Jadi, kalau ada pihak yang menawarkan keuntungan besar dalam berinvestasi tapi tidak menyampaikan risikonya, perlu diwaspadai. Semua perusahaan efek yang legal menawarkan investasi, tercatat dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Menabung di bank tidak ada risiko atau memiliki risiko yang kecil, karena menabung bukan berinvestasi. Keuntungan menabung di bank berupa bunga atau bagi hasil, yang nilainya kecil dan sudah ditetapkan. Sementara berinvestasi di saham, potensi keuntungannya bisa mencapai belasan, puluhan, bahkan ratusan persen, tetapi dengan risiko investasi yang bisa menggerus modal.

IHSG Ditutup Menguat 76,4 Poin Hari Ini 

Keuntungan investasi saham berasal dari kenaikan harga saham dan dividen. Kenaikan harga saham bergerak berdasarkan hukum permintaan dan persediaan. Jika banyak yang ingin membeli saham tersebut, otomatis harga akan naik. Sebaliknya, kalau lebih banyak yang mau menjual atau melepas saham tertentu, akan menyebabkan harga saham turun.

Contoh, seorang investor pada awal tahun membeli saham ABC di Bursa Efek Indonesia (BEI), melalui perantara perusahaan efek tempat ia membuka rekening pada harga Rp500 per lembar saham. Di BEI, berlaku minimum pembelian dan penjualan saham sebesar 1 lot saham. Satu lot saham berisi 100 lembar saham. Artinya kalau harga per lembar saham Rp500, maka ia bisa membeli atau menjual minimal Rp50 ribu (1 lot). Di akhir tahun, harga saham ABC naik menjadi Rp750 per lembar saham. Artinya dia bisa menjual 1 lot saham di akhir tahun seharga Rp75 ribu atau mendapat keuntungan 50%.

Tetapi bisa saja harga suatu saham tidak naik, bahkan mengalami penurunan. Alasan orang banyak menjual saham yang ia miliki yang menyebabkan harga turun disebabkan beberapa faktor, diantaranya, kinerja perusahaan yang sahamnya dicatat di BEI mengalami penurunan. Kinerja yang tidak bagus, misalnya perusahaan sebelumnya mengalami keuntungan, tetapi saat ini mengalami rugi, akan menyebabkan harga sahamnya di BEI turun.

Faktor lain yang bisa menyebabkan harga saham turun adalah sektor usaha emiten yang sedang tidak bagus. Contoh, industri pertambangan dan perkebunan sempat tidak bagus dalam beberapa tahun, karena turunnya harga komoditi tambang dan perkebunan di pasar komoditas dunia.

Faktor perekonomian suatu negara, keamanan dan stabilitas juga bisa memengaruhi sentimen investor di pasar saham. Jika investor merasa tidak nyaman dan tidak aman, mereka akan menjual saham-saham miliknya yang menyebabkan harga saham akan mengalami penurunan.

Saham yang berpotensi mengalami kenaikan harga adalah saham-saham perusahaan yang kinerja keuangannya terus bertumbuh dengan baik. Ditambah sektor usaha yang baik pula, dan iklim investasi yang positif, menjadi peluang untuk kenaikan harga saham atau potensi keuntungan yang besar.

Baca Juga: Strategi dalam Berinvestasi Syariah di Pasar Modal

Jadi, pilihlah saham-saham yang memiliki fundamental keuangan yang baik. Dan mulailah membeli saham ketika harga-harga saham sedang rendah, sehingga punya peluang mendapatkan capital gain atau keuntungan yang besar saat kondisi ekonomi dan politik membaik. Bukan sebaliknya, membeli pada saat kondisi sudah sangat baik dan harga-harga saham sedang tinggi.

Untuk mengukur tinggi rendahnya harga saham, bisa diamati dari indikator PER (Price Earning Ratio) setiap saham. Semakin kecil PER berarti semakin murah harga saham tersebut. Bandingkan dengan saham di sektor usaha yang sama. Jika PER suatu perusahaan lebih kecil dibanding kompetitornya, maka ia punya potensi untuk naik menyamai PER industri.

Investor juga bisa bertanya ke analis saham yang ada di perusahaan efek. Tanyakan berapa book value saham yang ingin dibeli. Bandingkan book value dengan harga saham di BEI. Jika harga saham ada di atas book value, berarti saham tersebut sudah terlalu tinggi harganya. Sebaliknya, jika harga saham di bawah book value, berarti saham tersebut masih murah dan bagus untuk dipilih. Karena pada akhirnya, harga saham yang ideal akan menyamai book value sahamnya.

 IHSG Ditutup Menguat 76,4 Poin Hari Ini

Potensi keuntungan kedua dari investasi saham adalah dividen. Perusahaan yang sahamnya tercatat di BEI akan membagikan dividen dari laba yang dibukukan perusahaan. Besarnya persentase dividen yang diambil dari laba ditentukan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Tetapi jika perusahaan tidak mengalami keuntungan, otomatis tidak akan membagikan dividen kepada pemegang sahamnya.

Salah satu strategi untuk mengoptimalkan keuntungan dan meminimalkan kerugian dalam berinvestasi saham adalah dengan melakukan investasi dalam jangka waktu panjang. Abaikan naik turunnya harga dalam jangka waktu pendek. Karena harga saham memang selalu berfluktuasi. Jangka panjang dalam investasi saham adalah di atas tiga tahun.

Strategi berikutnya adalah melakukan diversifikasi saham. Atau membeli lebih dari satu jenis saham. Sehingga jika salah satu saham mengalami penurunan harga, ada saham lainnya yang berpotensi naik, agar modal investasi tidak tergerus seluruhnya. Semakin banyak saham yang dimiliki semakin minimal risiko investasi.

(TIM BEI)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini