nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

BI Tahan Suku Bunga, Rupiah Melemah ke Rp14.186/USD

Feby Novalius, Jurnalis · Kamis 25 April 2019 17:33 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 04 25 278 2048020 bi-tahan-suku-bunga-rupiah-melemah-ke-rp14-186-usd-CBBeMbE5Ky.jpg Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih melemah usai Bank Indonesia (BI) dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) memutuskan untuk menahan suku bunga acuan atau BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI 7-Days Repo Rate) di level 6%. Rupiah pun mendekati level Rp14.200 per USD.

Dilansir dari Bloomberg Dollar Index, Kamis (25/4/2019) pukul 17.23 WIB, Rupiah pada perdagangan spot exchange ditutup melemah 81 poin atau 0,58% ke level Rp14.186 per USD. Rupiah hari ini bergerak di kisaran Rp14.111 per USD – Rp14.186 per USD.

Baca Juga: Rupiah Menguat 1,17% hingga Pekan Ketiga April 2019

Sementara itu, YahooFinance mencatat Rupiah melemah 93 poin atau 0,66% ke Rp14.183 per USD. Dalam pantauan YahooFinance, Rupiah bergerak di kisaran Rp14.108 per USD – Rp14.185 per USD.

Bank Indonesia (BI) dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 24-25 April 2019 memutuskan untuk menahan suku bunga acuan atau BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI 7-Days Repo Rate) di level 6%. Dengan demikian, ini menjadi bulan ke empat Bank Sentral menahan suku bunga acuannya di tahun 2019. Adapun suku bunga Deposit Facility (DF) tetap di level 5,25% dan Lending Facility (LF) pada level 6,75%.

Baca Juga: Anjlok ke Rp14.150/USD, Ada Apa dengan Rupiah?

"Dengan mempertimbangkan ekonomi global, Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada tanggal 24-25 April 2019 memutuskan untuk mempertahankan BI 7-day Reverse Repo Rate sebesar 6%," ujar Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers di Kantor Pusat BI, Jakarta, Kamis (25/4/2019).

Sebelumnya, langkah Bank Sentral menahan suku bunga acuan sudah diperkirakan. Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai langkah BI untuk menahan suku bunga acuan karena menjaga daya tarik pasar keuangan domestik, sebab beragamnya faktor risiko global yang masih mempengaruhi pasar keuangan negara berkembang.

(fbn)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini