nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pemerintah Targetkan 500 Titik BBM Satu Harga hingga 2024

Koran SINDO, Jurnalis · Minggu 12 Mei 2019 11:10 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 05 12 320 2054641 pemerintah-targetkan-500-titik-bbm-satu-harga-hingga-2024-3Z5JLFfKwO.jpg Peresmian BBM Satu Harga (Okezone)

JAKARTA - Pemerintah menargetkan 500 titik bahan bakar minyak (BBM) satu harga terbangun pada 2024. Untuk mencapai target tersebut, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) akan membangun total penyalur BBM Satu Harga hingga 2024 sebanyak 500 agen penyalur.

Menteri ESDM Ignasius Jonan optimistis target tersebut tercapai karena sejauh ini tidak ada kendala berarti dalam menjalankan program tersebut. Menurut dia, dukungan pemerintah daerah menjadi kunci agar kesejahteraan masyarakat dapat terwujud.

Dia menandaskan, program BBM satu harga mutlak dilakukan karena selama ini masyarakat di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) membeli BBM dengan harga lebih mahal bila dibandingkan dengan wilayah perkotaan.Kebijakan ini merupakan bagian untuk menegakkan keadilan.

“Tujuannya supaya masyarakat mendapatkan BBM yang harganya sama di seluruh Nusantara, terutama BBM yang dasar, yaitu Premium atau Biosolar. Kecuali jenis BBM yang lain seperti Pertamax, Pertamax Turbo, atau Dexlite itu harganya beda-beda, lebih tinggi dan jarang yang pakai,” ujar Jonan di Jakarta.

Program BBM satu harga sudah dimulai pada2017. Sejak 2017 hingga 2019 Kementerian ESDM secara nasional telah dan akan membangun 170 penyalur BBM satu harga. Perinciannya, pada 2017 program BBM satu harga telah terbangun 57 penyalur, pada 2018 lalu telah terbangun 74 penyalur. Sedangkan untuk 2019, pemerintah menargetkan 39 penyalur BBM Satu Harga akan beroperasi.

“Nanti kita expand (perluas) dengan total kurang lebih sampai 500, jadi tambah lagi kurang lebih 330 Satu sampai dua kecamatan bisa digabung dapat satu Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU),” jelasnya.

Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati menyatakan kesiapan Pertamina melaksanakan program BBM satu harga yang ditugaskan oleh Pemerintah

“BBM satu harga yang membedakan hanya biaya distribusi dan itu tidak terlalu besar dampaknya karena jumlahnya juga belum banyak. Volume penjualannya pun sangat kecil ghibah dibandingkan dengan total penjualan Pertamina di seluruh Indonesia,” ungkap Nicke.

"Seiring penambahan lokasi penyalur BBM satu harga, lanjutn Nicke, pihaknya akan mengkaji penambahan depo BBM untuk mempermudah distribusi ke penyalur. Nanti dengan penambahan beberapa lokasi BBM Satu Harga dan juga kita bangun di beberapa tempat, kita sedang mengkaji untuk menambah depo untuk mempermudah distribusinya,” kata Nicke.

Ketahanan Energi

Di sisi lain, Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar mengungkapkan bahwa berbagai program kebijakan yang diterapkan pemerintah tak lain untuk meningkatak ketahanan energi nasional.

Menurutnya berbagai macam kebijakan yang direformasi di sektor energi diharapkan mampu memenuhi kebutuhan energi dalam negeri secara mandiri. “Semua yang kita desain bertujuan menciptakan energy securit y.

Pada saat itulah apapun yang terjadi di luar sana, Indonesia akan mampu mengusahakan sendiri kebutuhan energinya tanpa bergantung pada negara lain,” kata dia. Meski begitu pemerintah tetap realistis dalam melihat keseimbangan kondisi antara kebutuhan energi dan laju ketersediaan energi.

Apalagi ketersediaan energi untuk masyarakat Indonesia belum sepenuhnya merata. Arcandra menilai, penggunaan bahan bakar fosil memang cukup membantu menyediakan energi secara murah.

Namun ketersediaan terbatas menuntut pemerintah mencari jalan lain sehingga bisa secara perlahan hanya mengandalkan energi fosil dalam menyediakan energi. “Kita harus mengatur strategi apakah itu bentuknya fossil fuel atau renewable energy selama konsep pengelolaan energi kita sumbernya berasal dari domestik.

Dari foreign based supply ke domestic based supply,” kata Arcandra. Perubahan paradigma pengelolaan energi, bagi Arcandra, mempunyai makna penting karena pemenuhan energi dari dalam negeri akan mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil, terutama yang berasal dari minyak dan batu bara.

Minyak bumi memang dinilai cukup bergantung pada ketersediaan minyak mentah dunia yang dipengaruhi oleh geopolitik global maupun rantai ketersediaan. Hal ini kerap membuat harga tidak stabil.

Salah satu energi yang bisa menjadi swasembada adalah listrik. Arcandra menyebutkan kendaraan listrik dan pembangkit menjadi dua contoh utama bagaimana peran penting Indonesia mampu menghasilkan sumber energi secara mandiri karena ketersediaan yang melimpah di dalam negeri.

“Yang membikin kita tidak bergantung pada negara lain adalah listrik. Maka ke depannya, yang dinamakan domestic based supply adalah energi berbasis listrik,” ungkap Arcandra.

(rhs)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini