nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kemenperin Optimistis Momen Lebaran Dorong Industri Manufaktur

Koran SINDO, Jurnalis · Senin 27 Mei 2019 10:50 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 05 27 320 2060761 kemenperin-optimistis-momen-lebaran-dorong-industri-manufaktur-CEz75bcYLv.jpg Ilustrasi: Shutterstock

JAKARTA – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) optimistis sektor industri manufaktur dapat tumbuh lebih agresif pada kuartal II/2019 dibanding periode sebelumnya. Hal ini disebabkan ada momentum Ramadan dan Lebaran.

“Kami yakin lebih tinggi dari pertumbuhan industri di kuartal I yang mencapai 4,8%. Kami berharap bisa mendekati 5%,” ujar Sekretaris Jenderal Kemenperin Haris Munandar di Jakarta kemarin. Menurut Haris, iklim usaha seusai pemilihan presiden dan anggota legislatif semakin membaik setelah sebelumnya para investor memilih wait and see. Menjelang Lebaran, sebagian banyak masyarakat membelanjakan uangnya untuk memenuhi kebutuhan pokok seperti makanan dan minuman serta pakaian.

Baca Juga: Warren Buffett Peringatkan Bahaya Perang Dagang AS-China

“Pascapemilu kami melihat iklim usaha semakin kondusif. Selain itu, konsumsi juga akan meningkat dengan adanya tunjangan hari raya (THR) serta gaji ke-13 bagi pegawai negeri sipil (PNS),” tuturnya. Selain itu, peredaran uang ke daerah pun semakin kencang karena banyak masyarakat yang mudik atau pulang kampung. “Liburnya panjang sehingga orang bisa spend lebih besar,” imbuhnya. Haris menilai belum terlihat dampak besar dari aksi massa yang terjadi pada 21-22 Mei 2019 terhadap aktivitas industri nasional. “Kami percaya, gejolak politik segera mereda dan aktivitas industri akan kembali berjalan normal,” ujarnya.

Haris menambahkan, pertumbuhan industri manufaktur juga akan terkerek oleh kenaikan investasi. Investasi diproyeksi melonjak pada kuartal II. Keyakinan ini pun mengacu pada tren yang sudah terjadi sejak pemilu 1992. “Pemerintah terus berupaya menciptakan kondisi ekonomi, politik, dan keamanan yang kondusif bagi para investor sehingga kinerja investasi di Indonesia yang sudah baik akan semakin meningkat dan tentunya investasi existing dapat lebih berdaya saing,” jelasnya. Pada kuartal I/2019 industri pengolahan nonmigas berkontribusi sebesar 18,5% atau Rp16,1 triliun terhadap realisasi penanaman modal dalam negeri (PMDN).

grafik

Adapun tiga sektor yang menunjang paling besar pada total PMDN tersebut di tiga bulan awal tahun ini yakni industri makanan yang menggelontorkan dana mencapai Rp7,1 triliun, disusul industri logam dasar Rp2,6 triliun, dan industri pengolahan tembakau Rp1,2 triliun. Selanjutnya industri manufaktur juga menyetor hingga 26% atau USD1,9 miliar terhadap realisasi penanaman modal asing (PMA). Tiga sektor yang menopangnya, yaitu industri logam dasar sebesar USD593 juta, diikuti industri makanan USD 376 juta, serta industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia USD217 juta. Kemenperin menargetkan sepanjang 2019 pertumbuhan industri manufaktur dapat mencapai 5,4%.

Subsektor yang di perkirakan tumbuh tinggi antara lain industri makanan dan minuman, industri permesinan, industri tekstil dan pakaian jadi, industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki, serta industri barang logam, komputer dan barang elektronika. Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Rosan Roeslani mengatakan, pemerintah perlu terus melakukan reformasi di segala bidang terutama birokrasi untuk menarik investasi. Menurut dia, pemerintah harus mampu memangkas birokrasi antara pemerintah pusat dan daerah.

“Kita juga harus mengambil manfaat dengan adanya perang da gang karena akan banyak relokasi dari China ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Untuk itu, kita harus pastikan pertumbuhan tetap terjaga sehingga investasi terus masuk,” ungkapnya.

(Oktiani Endarwati)

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini