nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Fakta Terkini Defisit BPJS Kesehatan yang Tembus Rp9,1 Triliun pada 2018

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Senin 03 Juni 2019 08:17 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 06 02 320 2063195 fakta-terkini-defisit-bpjs-kesehatan-yang-tembus-rp9-1-triliun-pada-2018-yPQZOqOz2S.jpg Ilustrasi (Foto: Okezone)

JAKARTA - Sejak beroperasi pada 1 Januari 2014, kinerja keuangan Badan Pengelola Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan terus sakit dari tahun ke tahun. Pada tahun lalu, defisit BPJS Kesehatan tercatat sebesar Rp9,1 triliun.

Mengingat peran penting BPJS Kesehatan dalam menjalankan Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), maka Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati meminta BPJS Kesehatan dapat berbenah. Hal ini untuk mendorong keberlanjutan BPJS Kesehatan dan mencegah kebangkrutan.

Berikut sejumlah fakta terkait defisit BPJS Kesehatan yang dirangkum Okezone:

1. Defisit BPJS Tahun 2018 Sebesar Rp9,1 Triliun

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebut hasil audit Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) menunjukkan defisit keuangan pada BPJS Kesehatan pada tahun 2018 sebesar Rp9,1 triliun.

Sejak beroperasi pada tahun 2014, BPJS kesehatan memang terus mencatatkan keuangan yang defisit. Pada tahun pertama beroperasi keuangan BPJS Kesehatan tercatat defisit Rp3,3, triliun.

2. Sri Mulyani Ingin BPJS Kesehatan Berbenah

Sri Mulyani meminta BPJS Kesehatan untuk berbenah memperbaiki sistem manajemen dan keuangan untuk meminimalkan defisit tahun anggaran 2018 sebesar Rp9,1 triliun yang akan diselesaikan pada 2019.

“Rekomendasi BPKP agar BPJS menjalankan 'action plan'-nya agar bisa kurangi Rp9,1 triliun ini, yang memang 'under control' dari BPJS Kesehatan,” katanya.

Dari rekomendasi BPKP yang telah mengaudit laporan keuangan BPJS Kesehatan tahun 2018, telah diidentifikasi beberapa hal yang harus dikerjakan oleh BPJS untuk mengurangi hasil defisit. Yaitu yang sifatnya kepesertaan, Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SILPA) kapitasi yang ada di pemda, pencegahan "fraud", penagihan non-performing loan (NPL), dan sejumlah kerja sama lain yang bisa dilakukan.

Baca Juga: 3 Jurus BPJS Kesehatan Atasi Defisit

Sri Mulyani merasa keberatan apabila BPJS Kesehatan mengalami defisit dan langsung datang ke Kementerian Keuangan (Kemenkeu) meminta bantuan pembiayaan untuk menutup defisit. Dia menginginkan Kemenkeu bukan menjadi pembayar pertama, melainkan pembayar terakhir setelah berbagai upaya pengurangan defisit dilakukan.

Dia mencontohkan adanya SILPA dana kapitasi tahun anggaran 2018 yang sedianya diberikan kepada Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) seperti puskesmas dan klinik untuk biaya layanan dan operasional sebesar Rp2,5 triliun masih mengendap di pemerintah daerah. Menurutnya, dana tersebut dapat dimanfaatkan untuk meminimalkan defisit dengan penerbitan regulasi berupa Peraturan Menteri Kesehatan guna mengatur hal tersebut.

BPJS Kesehatan juga diminta membereskan sistem pengelolaan data peserta dengan data cleansing untuk mencegah masalah mengenai kepesertaan ganda dan lain sebagainya. Selain itu, BPJS Kesehatan juga baru mencapai kolektibilitas iuran dari Peserta Bukan Penerima Upah (PBPU) sebesar 53,7% dari target yang ditetapkan 60%.

3. Saran Sri Mulyani untuk BPJS Kesehatan

Sri Mulyani juga memiliki beberapa “resep” untuk Program Jaminan Kesehatan Nasional yang diselenggarakan BPJS Kesehatan dapat berkelanjutan dan berkesinambungan. Dia mengatakan, hal pertama harus dilakukan adalah menyesuaikan besaran iuran agar sesuai dengan layanan yang diberikan saat ini, atau iuran tetap sama namun mengurangi manfaat layanan yang diberikan.

Namun, Sri menyebutkan ada sisi kemanusiaan dan hal lainnya yang sensitif terkait dengan kebijakan tersebut. Jika besaran iuran dinaikan, peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) dari kalangan masyarakat miskin akan baik-baik saja karena dibayarkan pemerintah.

Namun, yang masih menjadi kendala adalah bagi kalangan masyarakat menengah ke bawah yang masuk dalam Peserta Bukan Penerima Upah (PBPU) atau pekerja mandiri yang hingga saat ini kolektivilitas iurannya masih rendah.

“Meskipun kita lihat dari sisi belanja rumah tangga paling besar untuk beli pulsa telepon, bahkan rokok, tapi untuk iuran kesehatan tidak masuk dalam top prioritas mereka. Ini masalah edukasi,” kata dia.

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini