nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Mahalnya Harga Tiket Pesawat karena Duopoli? Ini Kata Menko Luhut

Selasa 11 Juni 2019 14:37 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 06 11 320 2065281 mahalnya-harga-tiket-pesawat-karena-duopoli-ini-kata-menko-luhut-3k3gcBNO1H.jpg Foto: Menko Luhut (Okezone)

JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan membeberkan penyebab mahalnya harga tiket pesawat di Indonesia yang menyebabkan menurunnya jumlah penumpang.

Menurut Luhut, salah satu kesalahan pemerintah adalah membiarkan harga avtur terlalu tinggi, bahkan lebih tinggi dari harga patokan Mid Oil Platts Singapore (MOPS) Singapura.

"Makanya saya pernah katakan, nanti harus ada satu lagi pembanding. Ada yang bilang (agar harga avtur) disubsidi di daerah, ya carilah partner yang mau subsidi di daerah. Masak Singapura bisa lebih murah 20% dari kita?" ujarnya seperti dilansir Antaranews, Jakarta, Selasa (11/6/2019).

 Baca Juga: Penumpang Pesawat Turun Drastis, Apa Penyebabnya?

Luhut menambahkan, masalah lain atas tingginya harga tiket pesawat adalah inefisiensi yang terjadi di Garuda Indonesia dan Lion Air, dua maskapai utama yang mendominasi penerbangan nasional.

Inefisiensi, menurut mantan Menko Polhukam itu, terjadi untuk pembelian pesawat yang tidak sesuai dan tidak efisien.

"Tapi sekarang Garuda sedang memperbaiki, begitu pula di Lion," katanya.

Mantan Kepala Staf Presiden itu menuturkan meski didominasi dua grup maskapai, tidak ada duopoli dalam penerbangan nasional. Pasalnya, maskapai asal Malaysia AirAsia juga telah beroperasi di Indonesia.

"Jadi kalau duopoli, saya rasa enggak juga," imbuhnya.

 Baca Juga: Perintah Menteri Rini ke Garuda: Turunkan Harga Tiket Pesawat!

Luhut mengatakan secara bertahap akan terjadi penyesuaian harga. Namun, dia mengatakan kenaikan harga dalam penyesuaian tidak bisa dihindari.

"Memang harga itu juga harus dinaikkan, hanya memang kenaikkan harus dilakukan secara gradual (bertahap) dan di sektor orang-orang mampu. Yang kurang mampu, harga itu dikasih subsidi. Karena tidak boleh juga dong kita terlalu beda jauh dengan di luar," pungkasnya.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini