nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Wall Street Melemah Tertekan Saham Teknologi

Dani Jumadil Akhir, Jurnalis · Jum'at 14 Juni 2019 20:55 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 06 14 278 2066645 wall-street-melemah-tertekan-saham-teknologi-5yMNFB3Hh1.png Foto: Reuters

NEW YORK - Bursa saham Amerika Serikat (AS) Wall Street dibuka melemah pada perdagangan Jumat waktu setempat terbebani penurunan saham sektor teknologi.

Hal ini tidak terlepas dari dampak perang dagang yang semakin memanas antara China dengan AS yang menghambat pertumbuhan ekonomi global.

 Baca Juga: Wall Street Naik Imbas Konflik di Teluk Oman

Salah satu yang menjadi korban perang dagang yakni Broadcom. Perusahaan pembuat chip ini memangkas penjualannya.

Melansir Reuters, Jakarta, Jumat (14/6/2019), indeks Dow Jones Industrial Average turun 30,41 poin atau 0,12% ke level 26.076,36. Indeks S&P 500 dibuka turun 4,82 poin, atau 0,17% ke 2.886,82 dan indeks Nasdaq Composite turun 29,94 poin, atau 0,38%, menjadi 7.807,19.

Sebelumnya, Wall Street bergerak naik pada perdagangan Kamis sebelumnya di tengah isu penurunan suku bunga The Fed (fed fund rate).

 Baca Juga: Saham Teknologi Rontok, Wall Street Ditutup Melemah

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani memperkirakan Bank Sentral Amerika Serikat (AS) alias The Fed akan menurunkan suku bunga acuannya, Fed Fund Rate (FFR). Arah kebijakan The Fed tersebut terkait dengan belum adanya titik temu antara AS dengan China untuk menyudahi perang dagang.

"Kalau dilihat (perang dagang) ini intensitasnya naiknya pada bulan Mei yang lalu. Sehingga memang kalau dilihat dari language-nya policy mereka masih akan data driven," ujar Sri Mulyani di Gedung Kemenkeu, Jakarta.

Menurut Sri Mulyani, beberapa analis ekonomi pun sudah memprediksi bahwa The Fed akan menurunkan suku bunga acuannya sebanyak dua kali sepanjang tahun 2019.

"Tapi kemarin sinyalnya tidak secara firm turun, tapi mereka mengatakan risiko semakin besar. Itu berarti kenaikan tidak terjadi lagi, jeda akan dilakukan dan kemungkinan terjadi penurunan," paparnya. Hal itu menurutnya membuat Indonesia juga harus melakukan penyesuaian kebijakan sesuai dengan perkembangan ekonomi dunia.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini