Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Integrasi MRT hingga LRT Jadi Upaya Jakarta Perbaiki Kualitas Udara

Koran SINDO , Jurnalis-Kamis, 27 Juni 2019 |09:30 WIB
Integrasi MRT hingga LRT Jadi Upaya Jakarta Perbaiki Kualitas Udara
Ilustrasi Polusi Udara di Jakarta (Foto: Koran Sindo)
A
A
A

Pengamat tata kota dari Universitas Trisakti Nirwono Joga menilai saat ini penggunaan transportasi umum di Jakarta tinggal 23%. Padahal pada 2030 pengguna transportasi ditargetkan 60%.

Untuk mewujudkan target ter sebut, selain perlu integrasi, harmonisasi transportasi perlu dilakukan selaras dengan Perpes No 54 Tahun 2008 tentang Penataan Ruang Jabodetabek punjur dan Perpres Nomor 55/2018 tentang Rencana Induk Transportasi Jabodetabek agar pengembangan transportasi massal sejalan dengan rencana tata ruang kota.

Selain itu masyarakat harus di dorong menggunakan transportasi massal. Moda pengumpan mendesak dibuat sehingga transportasi massal menjadi satu simpul.

“Perpindahan moda dalam satu perjalanan maksimal tiga kali, waktu perjalanan dari asal ke tujuan maksimal 2,5 jam, akses jalan kaki menuju angkutan umum maksimal 500 meter, serta trotoar dan park and ride memadai,” ucap Nirwono.

Selain itu untuk di lintasan besar demi mengurangi kendaraan pribadi, pihaknya menyarankan Pemprov DKI segera menerapkan jalan berbayar elektronik di jalan protokol, perluasan kebijakan ganjil-genap, e-parking progresif, park and ride di terminal/stasiun.

Kota-kota di India Terparah

Sebanyak 22 dari 30 kota berpolusi terburuk di dunia versi IQAir, AirVisual, dan Green peace berasal dari India. Kota India yang paling tercemar ialah Gurugram, wilayah keuangan dan industri. Tingkat polusi udaranya 13 kali lebih tinggi bila di bandingkan dengan standar yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO.

Kota lainnya yang berada di belakang Gurugram ialah Delhi, ibu kota paling tercemar di seluruh dunia, Patna, Lucknow, Faisalabad, Lahore, dan Hotan. Para ahli dari IQAir, AirVisual, dan Greenpeace fokus pada PM2.5. Partikel mikros kopis itu 20 kali lebih kecil daripada sehelai rambut manusia dan sangat berbahaya.

PM2.5 dapat berupa logam, senyawa organik, atau hasil dari pembakaran batu bara, kayu, arang, gas, dan minyak. Dampaknya terhadap kesehatan dan ekonomi lebih hebat daripada asap rokok. Secara global, partikel itu menyebabkan 7 juta orang tewas per tahun dan mengurangi rata-rata usia sekitar 1,8 tahun.

Kerugian ekonomi dari kematian buruh akibat PM2.5 saja mencapai USD225 miliar. Adapun untuk kesehatan ditaksir mencapai triliunan dolar AS. Bank Dunia bahkan mengestimasi polusi udara merugikan India sebesar 8,5% dari PDB.

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement