nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Masyarakat Indonesia Habiskan Rp4,4 Trilun untuk Belanja Aplikasi

Taufik Fajar, Jurnalis · Kamis 27 Juni 2019 20:17 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 06 27 320 2071827 masyarakat-indonesia-habiskan-rp4-4-trilun-untuk-belanja-aplikasi-bsPb88uF4p.jpg Ilustrasi: Foto Shutterstock

JAKARTA - Masyarakat Indonesia tercatat menghabiskan dana sebanyak USD313,5 juta atau sekitar Rp4,4 triliun pada tahun 2018 untuk belanja aplikasi perangkat teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Hal tersebut penyebab defisit neraca jasa pada sektor TIK.

Dekan Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor (IPB) Nunung Nuryartono mengatakan bahwa aplikasi yang dibeli tersebut dapat disebut sebagai impor jasa sektor TIK yang menggerus devisa.

"Jadi, total spending belanja konsumen mencapai USD313,5 juta selama 2018 untuk membeli mobile apps yang dikeluarkan," ujar dia di Jakarta, Kamis (27/6/2019).

 Baca Juga: YLKI Blak-blakan soal Aduan saat Harbolnas

Dia menjelaskan, aplikasi yang diunduh tersebut termasuk aplikasi game online yang diketahui merupakan aplikasi berbayar. Di mana besarnya transaksi untuk pembelian aplikasi secara online juga didukung dengan besarnya jumlah kepemilikan ponsel sekaligus peneterasi internet di Indonesia.

"Kita tahu penduduk atau populasi di Indonesia mencapai 268,2 juta orang, tapi jumlah handphone lebih banyak, yaitu 355,3 juta. Pengguna internet 150 juta dan pengguna media sosial 150 juta," ungkap dia.

 Baca Juga: 7 Barang Ini Sebaiknya Tidak Dibeli Secara Online

Dia menambahkan rata-rata waktu penggunaan internet Indonesia tercatat lebih lama dari pada rata-rata nasional. Masyarakat Indonesia menggunakan internet selama 8,5 - 9 menit per jam.

"Namun, rata-rata internasional hanya 6 menit per jam. Selain berbelanja aplikasi, kehadiran online marketplace saat ini juga meningkatkan transaksi jual beli barang antar negara," tutur dia.

Dampak positifnya, internet dapat memperkaya pengetahuan masyarakat. Tapi di sisi lain mendorong impor barang dan jasa. "Kalau banyak impor, uang kita yang dikeluarkan. Ini pasti memberatkan kondisi neraca perdagangan kita," pungkas dia.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini