nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Bos Krakatau Steel Ajak Anak Usaha Sama-Sama Selamatkan Bisnis Baja

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Selasa 02 Juli 2019 15:33 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 07 02 320 2073664 bos-krakatau-steel-ajak-anak-usaha-sama-sama-selamatkan-bisnis-baja-YZdYpSz7XZ.jpg PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (Foto:Yohana/Okezone)

JAKARTA - Persaingan industri baja saat ini sangat kompetitif. Tidak terkecuali PT Krakatau Steel Tbk juga tengah menghadapi persaingan tersebut.

Saking sengitnya, Krakatau Steel membukukan rugi bersih selama tujuh tahun. Bahkan sampai kuartal I-2019 total kerugian Krakatau Steel mencapai USD62,32 juta atau ekuivalen dengan Rp878,74 miliar (kurs Rp14.100 per dolar AS).

Perusahaan pelat merah itu pun tengah melakukan restrukturisasi agar kinerja perusahaan kembali sehat dan berdaya saing. Restrukturisasi itu meliputi utang, bisnis, dan organisasi.

Direktur Utama Krakatau Steel Silmy Karim mengatakan, dalam hal menjalankan perampingan organisasi melibatkan anak-anak usaha KS Group. Program ini dinilai bakal membuat unit-unit kerja di internal Krakatau Steel lebih optimal sehingga mampu menjalankan bisnis secara efisien dan lebih produktif.

Sementara anak perusahaan yang mendapat tambahan karyawan dari KS akan dapat mengembangkan bisnisnya untuk mendapatkan pasar dan pendapatan baru dari luar KS Group.

"Saya mengajak seluruh anak usaha KS untuk bersama-sama menyelamatkan bisnis baja KS karena untuk menyelesaikan permasalahan tersebut perlu mengedepankan semangat gotong-royong dan kebersamaan semua pihak," ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (2/7/2019).

Baca Juga: Pendapatan Anjlok 13,82%, Begini Upaya Krakatau Steel untuk Bangkit

Silmy menambahkan, program rekstrukturisasi perlu dilakukan guna menyelamatkan Krakatau Steel sebagai produsen baja nasional yang memiliki aspek strategis dalam pembangunan ekonomi nasional, sebagai tulang punggung industri dan pembangunan infrastruktur yang sedang digalakkan di Indonesia.

"Selain itu diharapkan dengan program ini, PT Krakatau Steel akan lebih lincah dalam pengembangan bisnis dan pasarnya di masa mendatang," tutupnya.

Seperti diberitakan, gejala Krakatau Steel bermasalah sudah berlangsung selama tujuh tahun dengan membukukan rugi bersih berkepanjangan. Sampai kuartal I-2019 total kerugian Krakatau Steel mencapai USD62,32 juta atau ekuivalen dengan Rp878,74 miliar (kurs Rp14.100 per dolar AS).

Sampai Desember 2018 Krakatau Steel mencatat rugi bersih sebesar USD4,85 juta atau ekuivalen dengan Rp68,45 miliar. Sementara sepanjang kuartal I-2019 pendapatan perseroan turun 13,87% menjadi USD418,98 juta atau sekitar Rp5,90 triliun dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar USD486,17 juta atau Rp6,85 triliun.

Pendapatan terbesar masih dari penjualan baja di pasar lokal mencapai USD349,60 juta, turun 17% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar USD421,22 juta. Adapun penjualan untuk pasar luar negeri justru naik menjadi USD16,69 juta, atau naik 78,88% dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar USD9,33 juta.

Perseroan juga membukukan pendapatan dari bisnis lain yakni real estate dan perhotelan, rekayasa dan konstruksi, jasa pengelolaan pelabuhan dan jasa lainnya. Bahkan jasa pengelolaan pelabuhan cukup signifikan yakni USD18,50 juta.

Baca Juga: Ramai Soal Krakatau Steel PHK Massal, Sebenarnya Ada Apa Sih?

Sementara total aset perseroan susut menjadi USD4,16 miliar dari akhir Desember 2018 yang sebesar USD4,29 miliar. Aset ini terdiri dari aset lancar USD771,34 juta dan aset tak lancar USD3,39 miliar.

Sedangkan kewajiban perseroan pada periode yang sama turun tipis menjadi USD2,40 miliar, dibandingkan akhir 2018 yang sebesar USD2,49 miliar. Dengan liabilitas jangka pendek senilai USD1,43 miliar atau sekitar Rp20,31 triliun dan liabilitas jangka panjang senilai USD968,70 juta atau Rp13,76 triliun.

Ekuitas di kuatal I-2019 turun menjadi USD1,76 miliar dibandingkan USD1,80 miliar di akhir Desember 2018. 

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini