JAKARTA - Guru Besar Ilmu Manajemen Universitas Indonesia (UI) Rhenald Kasali turut berkomentar terkait persoalan yang terjadi di PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. Laporan keuangan BUMN sektor penerbangan ini dinilai bermasalah, sehingga membuat dikenakan denda Rp1,25 miliar oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI).
Rhenald menilai, dalam memandang persoalan Garuda Indonesia perlu dengan kepala dingin. "Sebab jangan-jangan banyak yang salah dan gagal paham dalam banyak hal," ujarnya dalam keterangan tertulis, Rabu (3/7/2019).
Dia mengatakan, mengelola bisnis penerbangan merupakan hal yang rumit. Sebab, selain harus mengutamakan keselamatan penumpang, namun juga perlu melakukan perawatan dan menggunakan teknologi yang tinggi.
Harga pesawat pun berubah-ubah tergantung pihak yang menguasai pesawat tersebut, juga tergantung pada suppply dan demand saat pembelian pesawat. Untuk membeli pun perlu menggunakan mata uang Dolar Amerika Serikat (AS), padahal penghasilan berupa Rupiah, disisi lain penumpang Indonesia juga tergolong price sensitive.
"Jadi investasinya besar, resiko besar, sudah begitu airlines (maskapai penerbangan) adalah industri yang sudah semakin sulit meraih untung," jelasnya.
Baca Juga: Bos Garuda Akhirnya Mundur dari Jabatan Komisaris Utama Sriwijaya Air
Rhenald menyatakan, bisnis maskapai penerbangan tak bisa lagi hidup dari pendapatan hasil penjualan tiket. CEO maskapai harus berpikir untuk mencari cara-cara baru. Value creation dalam dunia bisnis, sudah tidak bisa lagi dari supply chain karena mahal. Business model dunia baru menandaskan, semua bisnis harus explore value dari ekosistemnya.
"Hampir tak ada perusahaan penerbangan di dunia yang stand alone, hanya hidup dari traffic penumpang atau cargo dan bisa untung. Itu sudah tak bisa lagi. Maka CEO harus berpikir, cari cara-cara baru," katanya.
Menurutnya, mencari cara baru inilah yang dilakukan oleh Direktur Utama Garuda Indonesia I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra, dengan menggandengan sebuah startup, PT Mahata Aero Teknologi. Kerjasama untuk pengadaan layanan hiburan di dalam pesawat dan konektivitas Wi-Fi.